KONTAN.CO.ID - Sejumlah negara mulai melacak penumpang kapal pesiar MV Hondius setelah muncul wabah Hantavirus di atas kapal tersebut. Langkah ini dilakukan untuk mencegah penyebaran virus lebih lanjut, terutama terhadap penumpang yang telah turun sebelum wabah terdeteksi dan orang-orang yang sempat melakukan kontak dekat dengan mereka. Wabah tersebut telah menewaskan tiga orang, yakni pasangan asal Belanda dan seorang warga negara Jerman yang berada di kapal MV Hondius.
Baca Juga: Shakira Rilis Lagu Resmi Piala Dunia 2026 Bertajuk Dai Dai World Health Organization (WHO) menyebutkan, hingga kini terdapat lima kasus terkonfirmasi hantavirus dan tiga kasus suspek lainnya. Hantavirus umumnya menyebar melalui hewan pengerat, meskipun dalam kasus langka dapat menular antar manusia. Operator kapal, Oceanwide Expeditions menyatakan, seluruh penumpang yang turun di Pulau Saint Helena pada 24 April telah dihubungi. Mereka berasal dari sedikitnya 12 negara, termasuk tujuh warga Inggris dan enam warga Amerika Serikat. Kasus pertama wabah ini terdeteksi pada awal Mei. Direktur Manajemen Epidemi dan Pandemi WHO Maria Van Kerkhove menegaskan, situasi ini berbeda dengan pandemi COVID-19. “Ini bukan coronavirus, ini virus yang sangat berbeda. Situasinya tidak sama seperti enam tahun lalu,” ujarnya dalam konferensi pers dilansir dari
Reuters Jumat (18/5/2026).
Baca Juga: Yuan China Tertahan di Dekat Puncak 3 Tahun usai Konflik Iran Kembali Memanas WHO juga menilai risiko terhadap masyarakat umum masih rendah, meskipun strain Andean hantavirus yang ditemukan pada sejumlah korban diketahui dalam kasus tertentu dapat menular antar manusia. WHO kini tengah menyusun panduan penanganan saat puluhan penumpang yang masih berada di kapal tiba di Canary Islands pada akhir pekan ini. Para penumpang tersebut dilaporkan belum menunjukkan gejala. Di Amerika Serikat, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyatakan terus memantau perkembangan wabah dan menilai risiko bagi publik AS masih sangat rendah. Media ABC News melaporkan, CDC telah mengklasifikasikan wabah ini sebagai respons darurat level 3. Presiden Donald Trump mengatakan dirinya telah menerima laporan terkait hantavirus dan berharap wabah tersebut dapat dikendalikan. “Kami berharap situasi ini masih terkendali,” ujar Trump kepada wartawan.
Baca Juga: Ketegangan Timur Tengah Memanas, UEA Tangkis Serangan Rudal dan Drone Iran Sejumlah negara juga mulai melakukan pemantauan terhadap warga yang sempat berada di kapal tersebut. Otoritas kesehatan di negara bagian Georgia dan Arizona di AS memantau beberapa warga yang telah kembali dari pelayaran itu dan belum menunjukkan gejala. Singapura juga mengisolasi dan menguji dua warganya yang berada di atas kapal, sementara Kanada memantau tiga warga yang sempat melakukan perjalanan bersama penumpang bergejala. Oceanwide Expeditions menyebut, pihaknya masih mendata seluruh penumpang dan kru yang naik maupun turun kapal sejak 20 Maret. Pasangan asal Belanda yang meninggal dunia diketahui naik ke kapal pada 1 April. Salah satu korban sempat diturunkan dari penerbangan KLM Royal Dutch Airlines di Johannesburg pada 25 April akibat kondisi kesehatannya memburuk dan meninggal sebelum tiba di Belanda.
Baca Juga: Trump Ajak CEO Nvidia hingga Boeing dalam Lawatan ke China Media RTL melaporkan seorang pramugari KLM yang sempat kontak dengan korban kini dirawat di rumah sakit di Amsterdam karena menunjukkan gejala yang diduga terkait hantavirus. Sementara itu, tiga pasien telah dievakuasi dari kapal pada Rabu (6/5). Dua di antaranya dirawat di Belanda dan satu lainnya dipindahkan ke Jerman untuk penanganan medis lebih lanjut. Di Switzerland, seorang pria yang ikut dalam pelayaran tersebut dinyatakan positif hantavirus setelah menjalani perawatan di rumah sakit. Sedangkan otoritas kesehatan Denmark meminta seorang warga negaranya yang ikut pelayaran untuk melakukan isolasi mandiri sebagai langkah pencegahan.