Singapura Tarik Investasi S$14,2 Miliar di 2025, Ciptakan 15.700 Lapangan Kerja Baru



KONTAN.CO.ID - Singapura berhasil menarik investasi senilai S$14,2 miliar atau setara US$11,1 miliar sepanjang 2025. Investasi tersebut diperkirakan akan menciptakan sekitar 15.700 lapangan kerja baru dalam lima tahun ke depan.

Menurut laporan tahunan Economic Development Board (EDB) yang dirilis pada Senin (9/2/2026) dikutip dari laman Channelnewsasia.

Nilai investasi aset tetap tersebut sedikit meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai S$13,5 miliar.


Investasi aset tetap mencakup belanja jangka panjang seperti pembangunan fasilitas, pembelian mesin, dan peralatan produksi.

Baca Juga: WHO Umumkan Kasus Kematian Akibat Virus Nipah di Bangladesh

Sementara itu, total belanja bisnis yang mencerminkan tambahan biaya operasional perusahaan seperti gaji dan sewa naik tipis menjadi S$8,9 miliar pada 2025 dari S$8,4 miliar pada 2024.

EDB menyebut komitmen investasi tahun lalu masih sejalan dengan tren beberapa tahun terakhir, meskipun dunia usaha menghadapi lingkungan global yang penuh ketidakpastian.

Ketua EDB Png Cheong Boon mengatakan, perusahaan-perusahaan pada 2025 harus menghadapi berbagai tantangan, mulai dari penerapan tarif pajak minimum global hingga kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump.

“Namun, Singapura tetap menjadi destinasi utama bagi para pemimpin bisnis global berkat reputasi kami sebagai negara yang stabil, andal, terhubung, dan dipercaya, serta didukung kebijakan pro-bisnis dan infrastruktur yang kuat,” ujarnya.

Baca Juga: Baht Thailand dan Ringgit Malaysia Pimpin Penguatan Mata Uang Asia Senin (9/2)

Penciptaan Lapangan Kerja Melambat

Meski nilai investasi relatif stabil, Png mengakui bahwa komitmen investasi pada 2025 tidak berbanding lurus dengan penciptaan lapangan kerja maupun nilai tambah ekonomi.

Sebanyak 15.700 pekerjaan baru yang diperkirakan tercipta dalam lima tahun ke depan merupakan angka terendah sejak setidaknya 2005.

Sebagai perbandingan, pada 2024 investasi yang masuk diproyeksikan menciptakan sekitar 18.700 lapangan kerja baru.

Penurunan ini mencerminkan sikap perusahaan yang lebih berhati-hati, serta meningkatnya penggunaan otomatisasi dan kecerdasan buatan (AI) dalam operasional bisnis.

Meski demikian, lebih dari dua pertiga pekerjaan baru yang tercipta diperkirakan memiliki gaji bulanan kotor di atas S$5.000.

Lapangan kerja tersebut tersebar di sektor jasa (40%), manufaktur (37%), serta riset dan pengembangan serta inovasi (23%), dengan mayoritas merupakan posisi profesional, manajerial, eksekutif, dan teknisi (PMET).

Baca Juga: Menkeu AS Bessent: The Fed Tak Akan Terburu-buru Kurangi Neraca

Manufaktur dan AI Masih Dominan

Dari sisi sektor, elektronik dan manufaktur biomedis menjadi penyumbang investasi terbesar, masing-masing sebesar 33% dan 30,8%.

Sekitar S$12,1 miliar dari total investasi aset tetap berasal dari proyek-proyek manufaktur.

Managing Director EDB Jermaine Loy mengatakan, hal ini menegaskan posisi Singapura sebagai pusat manufaktur maju, terutama di tengah tingginya permintaan global untuk produk terkait AI seperti chip semikonduktor, server, dan perangkat pendukungnya.

Selain itu, investasi juga mengalir ke sektor biomedis, kimia khusus, material berkelanjutan, serta pengembangan teknologi kendaraan otonom dan elektrifikasi.

Baca Juga: Israel Perluas Kendali di Tepi Barat, Permudah Pemukim Kuasai Lahan

Investasi China Lampaui AS

Berdasarkan asal wilayah, Eropa, China, dan Amerika Serikat menjadi sumber utama investasi. Namun, porsi investasi dari AS turun tajam dari 55,5% pada 2024 menjadi 17,3% pada 2025.

Sebaliknya, kontribusi China melonjak dari 2,5% menjadi 20,6%, menandai pertama kalinya China melampaui AS dalam komitmen investasi aset tetap di Singapura.

Untuk belanja bisnis, China bahkan menyumbang lebih dari separuh total komitmen atau sekitar 50,7%.

EDB menilai, meningkatnya investasi China seiring upaya perusahaan-perusahaan Negeri Tirai Bambu memperluas ekspansi internasional akibat perlambatan ekonomi domestik.

Baca Juga: Kota Bulan SpaceX: Target Baru Elon Musk Kurang dari 10 Tahun

Prospek ke Depan

Ke depan, EDB memperkirakan persaingan global dalam menarik investasi akan semakin ketat, sementara penciptaan lapangan kerja menjadi semakin menantang.

Untuk tetap kompetitif, Singapura akan memperkuat sektor-sektor unggulan seperti AI, kedirgantaraan, manufaktur maju, serta ekonomi hijau dan berbasis bio.

Pemerintah juga akan terus menggandeng perusahaan untuk meningkatkan keterampilan tenaga kerja lokal agar siap menghadapi kebutuhan industri masa depan.

Selanjutnya: BPI Danantara Targetkan 18 Proyek Hilirisasi Rampung Sebelum Semester I 2026

Menarik Dibaca: IHSG Diproyeksi Menguat Terbatas, Simak Rekomendasi Saham BNI Sekuritas Senin (9/2)

TAG: