Singapura Tutup 2025 dengan Pertumbuhan 4,8%, Fokus Reset Kebijakan



KONTAN.CO.ID - Perekonomian Singapura mencatat pertumbuhan sebesar 4,8% sepanjang 2025, melampaui berbagai proyeksi, meski dunia dibayangi fragmentasi perdagangan dan meningkatnya ketegangan geopolitik global.

Hal tersebut disampaikan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong dalam pesan Tahun Barunya pada Rabu (31/12) dilansir dari laman Channelnewsasia.

“Ini merupakan hasil yang lebih baik dari perkiraan kami, mengingat kondisi global yang penuh tantangan,” ujar Wong.


Baca Juga: China Menerapkan Tarif Impor Daging Sapi Sebesar 55%

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa masyarakat Singapura perlu bersikap realistis karena mempertahankan laju pertumbuhan tersebut akan menjadi tantangan besar ke depan.

“Untuk tetap kompetitif, kita tidak bisa hanya melakukan hal yang sama. Kita harus meninjau ulang, menyetel ulang, dan menyegarkan strategi ekonomi kita,” tegas Wong.

Ia menyebutkan bahwa Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Perdagangan dan Industri Gan Kim Yong tengah memimpin tim pejabat muda untuk merumuskan arah strategi baru.

Paket usulan awal akan segera dirilis, sementara respons pemerintah akan disampaikan dalam Anggaran 2026.

Capaian pertumbuhan 2025 ini lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 4,4%.

Angka tersebut juga melampaui proyeksi ekonom sektor swasta sebesar 4,1% serta perkiraan resmi Otoritas Moneter Singapura (MAS) yang berada di kisaran 4%.

Baca Juga: Rupee Melemah di Awal 2026, Tertekan Permintaan Dolar Korporasi

Menurut Wong, kinerja ekonomi Singapura yang solid didorong oleh ketahanan pertumbuhan ekonomi global yang lebih baik dari perkiraan.

Selain itu, kebijakan tarif Amerika Serikat yang diterapkan lebih lambat dan dengan tingkat yang lebih rendah dari kekhawatiran awal turut meredakan tekanan global.

Singapura juga mendapat manfaat dari lonjakan permintaan semikonduktor dan produk elektronik yang dipicu oleh pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

“Sebagai hasilnya, tingkat pengangguran dan inflasi tetap rendah, sementara pendapatan riil meningkat di seluruh lapisan masyarakat,” ujar Wong.

Meski demikian, ia menekankan bahwa fragmentasi perdagangan dan ketegangan geopolitik akan menjadi fitur permanen dalam tatanan global yang terpecah. Ke depan, Singapura akan menghadapi lebih banyak hambatan pertumbuhan dan tekanan inflasi, yang tidak sepenuhnya bisa dihindari oleh negara kecil dengan ekonomi terbuka.

Baca Juga: Tahun Baru, Wajah Baru New York: Zohran Mamdani Resmi Dilantik Jadi Wali Kota

Singapura dalam Posisi Kuat

Wong menilai tahun 2025 menjadi titik balik penting, ditandai dengan berakhirnya tatanan global lama yang selama ini mengandalkan asumsi pasar terbuka dan kerja sama saling menguntungkan.

“Negara-negara kini mengonfigurasi ulang jaringan perdagangan dan rantai pasok atas nama ketahanan dan keamanan,” ujarnya.

Ketegangan geopolitik global juga semakin dalam, dengan perang di Ukraina yang belum menunjukkan tanda-tanda berakhir serta situasi di Gaza yang masih rapuh.

Di kawasan Asia Tenggara, konflik perbatasan antara Thailand dan Kamboja sempat memanas, meski kini telah dicapai gencatan senjata.

Meski dunia menjadi semakin tidak pasti, Wong menegaskan Singapura menghadapi tantangan tersebut dari posisi yang kuat.

“Reputasi internasional Singapura tinggi, dan merek Singapura dipercaya serta dihormati,” katanya.

Ia menambahkan, di tengah ketidakpastian global, banyak perusahaan—baik raksasa teknologi seperti Microsoft maupun startup dari berbagai negara—memilih Singapura sebagai basis operasional karena stabilitas yang ditawarkan.

Baca Juga: Neuralink Milik Elon Musk Akan Mulai Produksi Massal Perangkat Otak Digital di 2026

Fokus Domestik dan Tantangan Jangka Panjang

Di dalam negeri, pemerintah berkomitmen memastikan setiap warga Singapura merasakan manfaat pembangunan ekonomi.

Pemerintah akan terus bekerja sama dengan serikat pekerja dan dunia usaha untuk membantu pekerja meningkatkan keterampilan dan kemajuan karier.

Selain penciptaan lapangan kerja, pemerintah juga akan memperkuat fondasi kehidupan, termasuk pendidikan, perumahan, dan layanan kesehatan, serta memperkuat jaring pengaman sosial bagi kelompok rentan.

Dalam jangka panjang, Singapura juga menghadapi tantangan struktural seperti penuaan penduduk dan kebutuhan pasokan energi bersih.

Wong menyebut pemerintah akan mendukung generasi muda untuk berkeluarga, sekaligus mengkaji strategi ketenagakerjaan bagi warga lanjut usia.

Baca Juga: Amerika Serikat Menunda Kenaikan Tarif Impor Furnitur Hingga 2027

Di sektor energi, Singapura akan mengamankan pasokan energi bersih melalui impor energi hijau, pengembangan ASEAN Power Grid, serta eksplorasi opsi seperti hidrogen rendah karbon dan energi nuklir.

“Dulu, air merupakan ancaman eksistensial. Kini, energi bersih adalah tantangan besar berikutnya. Seperti halnya air, kita harus mengubah kerentanan ini menjadi kekuatan,” pungkas Wong.

Ia menutup dengan menegaskan bahwa tantangan masa depan menuntut keberanian, kreativitas, dan persatuan seluruh warga Singapura untuk menjaga keberlanjutan “keajaiban Singapura” di tengah dunia yang kian tidak pasti.

Selanjutnya: Waspadai Ketidakpastian Global, Bos BCA Syariah Optimistis Hadapi Kuartal I-2026

Menarik Dibaca: InJourney Airports Layani 8,23 Juta Penumpang Saat Nataru, Ini Bandara Tersibuk