KONTAN.CO.ID - Singapura memperingatkan kenaikan harga listrik dalam beberapa bulan mendatang akibat konflik di Timur Tengah, namun negara ini memiliki beberapa langkah untuk menjaga ketahanan energi, kata Menteri Tan See Leng pada Kamis (12/3/2026). Menurut Dr Tan, penutupan Selat Hormuz telah memengaruhi impor minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dari Timur Tengah, yang kemungkinan akan mendorong harga bahan bakar global naik dalam jangka pendek.
Baca Juga: Imbal Hasil Obligasi AS Naik Kamis (12/3), Waspadai Suku Bunga Tinggi Lebih Lama Sebelum konflik, sekitar seperlima konsumsi minyak harian dunia melewati Selat Hormuz. “Dengan kondisi global yang semakin tidak pasti, gangguan pasokan dan fluktuasi harga bahan bakar menjadi lebih sering,” tulis Dr Tan dalam postingan Facebook dilansir dari
Channelnewsasia. “Dampaknya terasa di Singapura, yang mengimpor seluruh kebutuhan gas alam untuk menghasilkan sekitar 95 persen listrik di negara ini.” Meski demikian, Singapura memiliki sejumlah langkah untuk memastikan pasokan energi tetap cukup. Sekitar setengah dari gas negara ini berasal dari jalur pipa regional dan tidak terdampak konflik.
Baca Juga: Trump Isyaratkan Perang dengan Iran Tak Akan Berakhir Dalam Waktu Dekat Impor LNG Singapura bersifat beragam, termasuk dari AS dan Australia, sehingga tidak terlalu bergantung pada Timur Tengah. Saat ini, upaya sedang dilakukan untuk mengganti satu muatan LNG yang berasal dari Timur Tengah. Singapura memiliki stok bahan bakar campuran gas dan diesel yang dapat digunakan oleh pembangkit listrik jika terjadi gangguan serius. Turbin pembangkit listrik di negara ini mampu menggunakan gas maupun diesel, dan Otoritas Pasar Energi (EMA) secara rutin menguji kemampuan semua pembangkit untuk beralih ke diesel jika diperlukan. Meski Singapura siap menghadapi gangguan pasokan, kenaikan harga gas global tetap diperkirakan akan menekan tarif listrik. Pemerintah menyiapkan bantuan bagi rumah tangga dan bisnis, termasuk peningkatan U-Save rebate untuk pemilik HDB sebesar 1,5 kali lipat atau hingga S$570 pada tahun anggaran 2026.
Baca Juga: Asia FX Melemah Kamis (12/3); Peso Filipina dan Ringgit Malaysia Pimpin Penurunan Dr Tan juga mendorong masyarakat dan bisnis untuk menghemat energi serta menggunakan peralatan yang lebih efisien. EMA sebelumnya menyebut sebagian besar konsumen listrik di Singapura “terlindungi” dari fluktuasi harga jangka pendek karena menggunakan kontrak harga tetap atau tarif yang diatur SP Group dan penyedia listrik. Namun, konsumen bisa menghadapi kenaikan tarif saat kontrak ritel diperbarui jika harga bahan bakar tetap tinggi. “Konflik ini mengingatkan kita bahwa dunia penuh ketidakpastian, dan kita tidak bisa menganggap enteng ketahanan energi,” kata Dr Tan. “Kita harus mengefisienkan penggunaan energi, dan setiap orang memiliki peran dalam hal ini.”