JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperingatkan bank-bank yang menyalurkan kredit ke komoditas khususnya sektor pertambangan. Pasalnya, rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) sektor kredit perbankan berpotensi naik pada 2015 mendatang. Kredit macet ini terjadi karena harga komoditas seperti batubara dan minyak mentah kelapa sawit menurun akibat permintaan yang rendah. “NPL tambang kemungkinan akan naik tahun depan,” kata Dewan Komisioner OJK Bidang Perbankan Nelson Tampubolon, Selasa (16/12). Sebagai langkah antisipasi, OJK meminta bank mengurangi kredit ke sektor komoditas dan meningkatkan analisis kredit sektor komoditas serta lebih selektif memilih debitur. Industri perbankan memproyeksikan rasio kredit bermasalah sektor pertambangan secara keseluruhan sekitar 4% pada tahun mendatang. Catatan saja, pada kuartal III/2014, rasio NPL pada sektor pertambangan sebesar 3,22%. Rasio kredit bermasalah ini naik 119 basis poin dibandingkan posisi 1,47% per September 2013.
Sinyal bahaya kredit sektor komoditas
JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperingatkan bank-bank yang menyalurkan kredit ke komoditas khususnya sektor pertambangan. Pasalnya, rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) sektor kredit perbankan berpotensi naik pada 2015 mendatang. Kredit macet ini terjadi karena harga komoditas seperti batubara dan minyak mentah kelapa sawit menurun akibat permintaan yang rendah. “NPL tambang kemungkinan akan naik tahun depan,” kata Dewan Komisioner OJK Bidang Perbankan Nelson Tampubolon, Selasa (16/12). Sebagai langkah antisipasi, OJK meminta bank mengurangi kredit ke sektor komoditas dan meningkatkan analisis kredit sektor komoditas serta lebih selektif memilih debitur. Industri perbankan memproyeksikan rasio kredit bermasalah sektor pertambangan secara keseluruhan sekitar 4% pada tahun mendatang. Catatan saja, pada kuartal III/2014, rasio NPL pada sektor pertambangan sebesar 3,22%. Rasio kredit bermasalah ini naik 119 basis poin dibandingkan posisi 1,47% per September 2013.