Sinyal kenaikan suku bunga pudar, emas bersinar



JAKARTA. Emas memperpanjang kenaikan (rebound) dari dua minggu bertahan di level rendah. Harga emas terkerek setelah laporan menunjukkan tanda-tanda tidak meratanya pemulihan ekonomi Amerika Serikat (AS).

Mengutip Bloomberg, Kamis (16/4) pukul 16.00, kontrak emas pengiriman Juni di Commodity Exchange berada di level US$ 1.205,30 per ons troi. Harga naik 0,3% dibanding hari sebelumnya. Dalam sepekan, harga emas melesat 1%. Harga sempat turun menjadi US$ 1.184,10 per ons troi pada Selasa (14/4). Ini merupakan level terendah sejak 1 April 2015.

Emas sempat turun 2,4% bulan lalu di tengah spekulasi bahwa Bank Sentral AS (The Federal Reserve) akan menaikkan tingkat suku bung acuan. Kondisi ini menutupi daya tarik emas sebagai sarana lindung nilai (hedging). Dollar AS melemah pada Rabu (15/4) setelah laporan menunjukkan bahwa output industri AS bulan Maret tercatat minus 0,6%.


Angka ini lebih rendah dari prediksi minus 0,3%. Ini merupakan penurunan terbesar sejak Januari 2006. The Fed sedang memeriksa data untuk menentukan waktu terbaik untuk menaikkan suku bunga acuan.

“Kemungkinan The Fed memulai siklus pengetatan pada bulan Juni terus berkurang,” terang Australia & Selandia Baru Banking Group Ltd menulis dalam sebuah catatan kepada Bloomberg.

The Bloomberg Indeks Dollar Spot turun sebanyak 0,4 % pada hari Kamis setelah dua hari berturut-turut kerugian.

Alwy Assegaf, analis PT SoeGee Futures menjelaskan, data produksi industri yang kurang mengesankan ini sempat menyeret pelemahan indeks dollar hingga ke level 97,88. Namun, indeks dollar pada Kamis (16/4) sore sudah kembali rebound menuju level 98,43. Menurutnya, data produksi industri ini menambah deretan rapor merah data ekonomi AS, akhir-akhir ini setelah data nonfarm payrolls dan penjualan ritel.

“Buruknya data ini mengindikasikan perlambatan pada kuartal I-2015. Kondisi ini semakin mengendurkan optimisme kenaikan suku bunga dalam waktu dekat,” ungkap Alwy.

Alwy bilang, investor terus mengamati data-data ekonomi AS sebelum The Fed kembali mengadakan pertemuan pada akhir bulan. Adapun data ekonomi yang mempengaruhi pergerakan emas dalam waktu dekat antara lain data perumahan (housing start) dan angka klaim pengangguran AS. Data perumahan baru bulan Maret diprediksi naik menjadi 1,05 juta. Jika data yang dirilis lebih positif dari estimasi, maka harga emas akan tertekan.

Meski demikian, tekanan emas bersifat terbatas. Sebab, data klaim pengangguran mingguan diperkirakan naik menjadi 284.000. Apabila rilis menunjukkan angka yang lebih tinggi maka akan membatasi tenaga dollar, sehingga emas berpotensi kembali unggul.

Deddy Yusuf Siregar, Research and Analyst PT Fortis Asia Futures mengatakan, penguatan emas terdorong oleh ketegangan antara Yunani dengan kreditur yang belum menemui kesepakatan. Buntutnya negosiasi ini menggerakkan pelaku pasar melirik emas. Kondisi Yunani berpotensi kian memanas karena cadangan kas Yunani bisa masuk ke teritori negatif pada pekan depan.

Pelaku pasar menanti apakah pejabat terkait mampu menyajikan reformasi ekonomi yang dianggap perlu untuk membuka paket stimulus. “Selain tertopang oleh faktor Yunani, emas juga diuntungkan lantaran data ekonomi AS yang jauh dari ekspektasi. Hal ini membuat investor beralih dulu ke emas,” terang Deddy.

Secara teknikal, Alwy menilai potensi penguatan emas jangka pendek masih terbuka. Harga bergerak di atas moving average 10. Artinya, tren jangka pendek emas menunjukkan up trend (naik). Histogram moving average convergence divergence (MACD) berada di atas nol. Indikator stochastic mulai membuka peluang golden cross. Kondisi ini membuka peluang kenaikan emas. Sementara relative strength index (RSI) berada di level 54%. Pergerakan di atas level 50% mensinyalkan penguatan lanjutan.

Alwy memprediksi harga emas sepekan terbentang di kisaran US$ 1.178-US$ 1.224 per ons troi. Sementara Deddy menebak harga emas berada di antara level US$ 1.195,10-US$ 1.224,05 per ons troi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto