KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Setelah mencatatkan reli penguatan yang cukup signifikan dalam beberapa pekan terakhir, laju harga emas dunia berpotensi tertahan dan memasuki fase koreksi teknikal pada pekan depan. Berdasarkan data Trading Economics pada Jumat (14/8), harga emas (Gold) berada di level US$ 4.341,58 per ons troi, menguat 6,92% dalam sebulan terakhir kendati terkoreksi tipis 0,18% secara harian. Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menilai pergerakan harga emas (XAUUSD) mulai memperlihatkan sinyal pelemahan momentum secara teknikal pada grafik harian (
time frame daily).
Baca Juga: Harga Emas Diproyeksikan Terbang ke US$ 6.000 hingga Akhir Tahun Kendati berhasil membentuk titik tertinggi baru (
swing high), harga emas dinilai belum mampu mempertahankan tren kenaikannya. "Terbentuknya
swing high dan munculnya
secondary trend yang mengarah ke bawah menjadi indikasi bahwa tekanan beli mulai berkurang, sehingga pasar berpotensi memasuki fase konsolidasi atau koreksi," ujar Geraldo dalam keterangannya, Jumat (14/8/2026). Aksi ambil untung (profit taking) tersebut dipandang wajar terjadi setelah harga emas menyentuh level tertinggi dalam dua bulan terakhir. Secara teknikal, indikator Stochastic saat ini bergerak turun menuju area jenuh jual
(oversold), yang memperkuat proyeksi kenaikan tekanan jual jangka pendek. Koreksi ini dinilai sebagai proses penyesuaian harga yang wajar sebelum pasar kembali menemukan arah tren utamanya. Dari sisi fundamental, daya tarik emas tetap ditopang oleh rilis data Producer Price Index (PPI) AS periode Juli yang stagnan. Data tersebut memperkuat ekspektasi pasar bahwa The Fed akan bersikap lebih dovish dan memperkecil peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September mendatang. Skenario ini diproyeksikan mampu membatasi penguatan Dolar AS sekaligus menjaga prospek jangka menengah emas tetap relatif solid. Secara teknikal, untuk pekan depan, Geraldo memproyeksikan pergerakan harga emas (XAUUSD) berpotensi tertekan menguji area support sekaligus
demand zone penting di level US$ 4.220 per ons troi.
Area tersebut menjadi titik krusial yang akan dicermati pelaku pasar untuk melihat potensi munculnya kembali minat beli (rebound). "Koreksi yang diproyeksikan terjadi pada pekan depan belum mengubah kecenderungan jangka menengah secara keseluruhan, namun investor disarankan tetap disiplin menerapkan manajemen risiko," tutup Geraldo.
Baca Juga: Pefindo Tegaskan Peringkat idA Darma Henwa (DEWA) Dengan Outlook Stabil Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News