JAKARTA. Sinyal kuning menyala dari pasar obligasi Indonesia. Tekanan hebat di pasar obligasi akibat kondisi ekonomi Indonesia yang memburuk membuat harga obligasi semakin terbenam. Tengok saja, indeks harga surat utang negara (SUN), Senin (9/9), menyentuh level terendahnya sejak 2009 di posisi 94,26. Indeks ini turun 0,19% dari posisi Jumat (6/9) yang berada di 94,44. Sejumlah SUN acuan alias benchmark juga mencatatkan koreksi terdalam. Salah satunya, harga SUN seri FR0065 bertenor 20 tahun, kemarin, turun ke level terendah sejak terbit tahun lalu di level 76,12. Otomatis, yield surat utang ini naik dari 9,20% di akhir pekan lalu menjadi 9,28%.
Jika dihitung sejak akhir 2012, ketika indeks harga SUN masih sebesar 111,70, return yang diperoleh investor obligasi negara dari capital gain harga SUN hingga kemarin, tercatat minus 15,61%. Padahal, di tahun lalu, pasar obligasi masih mampu memberikan return kepada investor sekitar 12%. Di 2011 dan 2010, surat utang negara memberikan return masing-masing sebesar 22%. Lonjakan inflasi sebagai buntut kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi yang diikuti oleh kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) menjadi biang kerok atas terjadinya koreksi tajam di pasar obligasi. Namun, laju inflasi menjadi faktor penggerus paling menonjol karena obligasi ditransaksikan dengan kupon bunga tetap atau fixed rate. Asal tahu saja, hingga Agustus 2013 lalu, inflasi tahunan Indonesia sudah mencapai 8,79%. "Jika inflasi naik, maka investor menginginkan yield lebih tinggi. Padahal kalau yield naik, harga obligasi akan turun," jelas Head of Fixed Income Research PT Mandiri Sekuritas Handy Yuniato. Di lain sisi, meskipun pemerintah telah menaikkan harga BBM bersubsidi, namun defisit anggaran pemerintah tetap membengkak. Akibatnya, suplai surat utang semakin besar untuk menambal defisit anggaran. Ketika suplai surat utang bertambah, imbal hasil SUN mengalami kenaikan dan harga menjadi tertekan. Tekanan di pasar obligasi semakin menjadi, setelah nilai tukar rupiah melemah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) akibat defisit transaksi berjalan yang terus melebar. "Karena pemegang SUN saat ini sekitar 30% merupakan investor asing, sehingga pelemahan rupiah akan memicu outflow," tutur Handy. Terlebih, pada saat bersamaan, yield obligasi Amerika Serikat (US treasury) naik.
Korporasi pun juga ikut terkena getah akibat pasar obligasi yang melesu. Perusahaan harus mengeluarkan ongkos mahal untuk mendapatkan pendanaan dari obligasi. Dus, penerbitan obligasi korporasi di tahun ini tak bakal sebesar tahun lalu. Hingga kini, total penerbitan obligasi korporasi baru mencapai Rp 43,6 triliun dibandingkan sepanjang 2012 yang sekitar Rp 69,3 triliun. "Diperkirakan pasokan obligasi baru korporasi di sisa tahun ini hanya sebesar Rp 11,1 triliun," ujar Vonny Widjaja, Direktur Pemeringkatan PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo). Bukan cuma itu, beban pembayaran utang pemerintah membengkak, karena investor meminta imbal hasil tinggi setiap SUN terbit. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News