NEW YORK. Harga minyak di New York kembali mendaki tadi malam (19/7). Bahkan kenaikannya merupakan yang tertinggi dalam dua bulan terakhir. Data Bloomberg menunjukkan, pada penutupan pasar di New York, harga kontrak minyak jenis WTI untuk pengantaran Agustus menanjak 3,1% atau US$ 2,79 menjadi US$ 92,66 per barel di New York Mercantile Exchange. Jika dihitung, harga minyak sudah melonjak 10% dalam tujuh hari terakhir. Kendati demikian, di sepanjang tahun ini, harga minyak masih mencatatkan penurunan sebesar 6,2%. Lonjakan harga minyak kali ini dipicu oleh ketidakstabilan politik di Timur Tengah. kondisi tersebut dikhawatirkan dapat memangkas suplai minyak dari kawasan produsen minyak terbesar di dunia itu. Sekadar informasi, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menuding organisasi Hizbullah Iran sebagai pihak yang bertanggungjawab atas serangan di Bulgaria yang menyebabkan turis Israel tewas. Netanyahu bahkan mengancam akan membalas aksi tersebut dengan kekuatan penuh.Di Damaskus, pasukan pemerintah Syiria berjuang membasmi kelompok pemberontak sebagai balasan atas ledakan yang menewaskan tiga pemimpin besar anti-pemberontakan Damaskus."Pelaku pasar sangat cemas mengenai apa yang terjadi di Timur Tengah. Kondisi tersebut menyebabkan harga minyak melambung. Iran berada di balik serangan dan situasi di Syiria semakin memanas. Kondisi ini meningkatkan gejolak geopolitik di kawasan tersebut," urai Jason Schenker, president Prestige Economics LLC di Texas. Sementara itu, harga kontrak minyak jenis Brent untuk pengantaran September naik SU$ 2,64 atau 2,5% menjadi US$ 107,80 per barel di ICE Futures Europe exchange. Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Situasi Timteng memanas, harga minyak melambung
NEW YORK. Harga minyak di New York kembali mendaki tadi malam (19/7). Bahkan kenaikannya merupakan yang tertinggi dalam dua bulan terakhir. Data Bloomberg menunjukkan, pada penutupan pasar di New York, harga kontrak minyak jenis WTI untuk pengantaran Agustus menanjak 3,1% atau US$ 2,79 menjadi US$ 92,66 per barel di New York Mercantile Exchange. Jika dihitung, harga minyak sudah melonjak 10% dalam tujuh hari terakhir. Kendati demikian, di sepanjang tahun ini, harga minyak masih mencatatkan penurunan sebesar 6,2%. Lonjakan harga minyak kali ini dipicu oleh ketidakstabilan politik di Timur Tengah. kondisi tersebut dikhawatirkan dapat memangkas suplai minyak dari kawasan produsen minyak terbesar di dunia itu. Sekadar informasi, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menuding organisasi Hizbullah Iran sebagai pihak yang bertanggungjawab atas serangan di Bulgaria yang menyebabkan turis Israel tewas. Netanyahu bahkan mengancam akan membalas aksi tersebut dengan kekuatan penuh.Di Damaskus, pasukan pemerintah Syiria berjuang membasmi kelompok pemberontak sebagai balasan atas ledakan yang menewaskan tiga pemimpin besar anti-pemberontakan Damaskus."Pelaku pasar sangat cemas mengenai apa yang terjadi di Timur Tengah. Kondisi tersebut menyebabkan harga minyak melambung. Iran berada di balik serangan dan situasi di Syiria semakin memanas. Kondisi ini meningkatkan gejolak geopolitik di kawasan tersebut," urai Jason Schenker, president Prestige Economics LLC di Texas. Sementara itu, harga kontrak minyak jenis Brent untuk pengantaran September naik SU$ 2,64 atau 2,5% menjadi US$ 107,80 per barel di ICE Futures Europe exchange. Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News