Skandal Olympus membuat heboh pasar finansial Jepang



TOKYO. Saham Olympus anjlok hingga 30% pada hari ini. Penurunan tersebut dipicu pengakuan perusahaan yang menyembunyikan kerugian dari investasi surat berharga selama beberapa dekade. Dalam pernyataan resminya, Olympus mengungkapkan telah menggunakan dana akuisisi terakhir untuk menutupi kerugian tersebut.Ini merupakan pengakuan dosa terbesar Olympus sejak mantan chief executive Michael Woodford dipecat karena mempertanyakan hal tersebut. Sebagai hasilnya, VP executive Olympus juga telah diberhentikan. "Ini masalah besar. Olympus seharusnya bisa menjadi teladan bagi perusahaan lain," jelas Darrel Whitten dari Investor Networks Inc. Kontroversi juga terkait pembayaran yang dilakukan Olympus kepada penasehat keuangan sebagai bagian dari akuisisi perusahaan, termasuk perusahaan asal Inggris Gyrus. Praktek pembayaran itu terungkap setelah Woodford mengklaim dirinya dipaksa mengundurkan diri dari perusahaan kerena mempertanyakan mengenai sejumlah praktek akutansi yang dijalankan perusahaan. Di sisi lain, Olympus bersikeras bahwa mereka tidak melakukan kejahatan dan memanggil pihak ketiga untuk melakukan investigasi terkait masalah itu. "Melalui investigasi ini, kami menemukan bahwa sejak tahun 1990, nilai kerugian pada investasi surat berharga perusahaan telah ditangguhkan selama beberapa waktu," demikian pernyataan manajemen Olympus. Perusahaan juga mengakui, pihaknya telah menyalurkan uang hasil akuisisi melalui berbagai cara untuk menutupi kerugian tersebut.Sejumlah analis menilai, pengakuan tersebut akan menyebabkan tanda tanya besar mengenai nasib perusahaan ke depannya. "Hal ini sangat serius. Olympus sudah mengakui bahwa pihaknya telah melakukan kesalahan dalam menutupi kerugiannya selama 20 tahun. Seluruh orang yang terlibat dalam 20 tahun terakhir harus mempertanggungjawabkan perbuatannya," jelas Ryosuke Okazaki dari ITC Investment Partners. Dia menambahkan, ada kemungkinan saham Olympus dicoret dari pasar saham. "masa depan perusahaan sangat buruk," jelasnya.


Editor: Barratut Taqiyyah Rafie