KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Minat investor global terhadap proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) dinilai lebih terdorong oleh kepastian skema kontrak jangka panjang ketimbang keandalan teknologinya. Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia menilai skema tersebut sejatinya mengalihkan seluruh risiko proyek kepada negara dan PT PLN (Persero). Ekonom CORE, Yusuf Rendy Manilet mengingatkan pemerintah agar belajar dari kegagalan operasional proyek terdahulu seperti PLTSa Benowo di Surabaya dan Putri Cempo di Surakarta. Menurutnya, masalah utama keberlangsungan PSEL berada pada ketidakcocokan teknologi impor dengan karakteristik sampah di dalam negeri. "Dari 12 PLTSa yang sejak 2016 jadi proyek strategis nasional (PSN), baru dua yang beroperasi: Benowo di Surabaya dan Putri Cempo di Surakarta. Keduanya justru jadi pelajaran pahit. Benowo krisis keuangan, Putri Cempo diaudit karena kapasitasnya belum sampai 20% target. Proyeksi pendapatan Benowo Rp 924 miliar setahun, realisasinya hanya Rp 302 sampai Rp 404 miliar. Biaya operasional membengkak 110%–270% sampai kemampuan bayar utangnya ambruk," ujarnya kepada Kontan.co.id, Minggu (26/7/2026).
Skema Kontrak PSEL Menguntungkan Investor, Ekonom Ingatkan Beban Subsidi Negara
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Minat investor global terhadap proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) dinilai lebih terdorong oleh kepastian skema kontrak jangka panjang ketimbang keandalan teknologinya. Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia menilai skema tersebut sejatinya mengalihkan seluruh risiko proyek kepada negara dan PT PLN (Persero). Ekonom CORE, Yusuf Rendy Manilet mengingatkan pemerintah agar belajar dari kegagalan operasional proyek terdahulu seperti PLTSa Benowo di Surabaya dan Putri Cempo di Surakarta. Menurutnya, masalah utama keberlangsungan PSEL berada pada ketidakcocokan teknologi impor dengan karakteristik sampah di dalam negeri. "Dari 12 PLTSa yang sejak 2016 jadi proyek strategis nasional (PSN), baru dua yang beroperasi: Benowo di Surabaya dan Putri Cempo di Surakarta. Keduanya justru jadi pelajaran pahit. Benowo krisis keuangan, Putri Cempo diaudit karena kapasitasnya belum sampai 20% target. Proyeksi pendapatan Benowo Rp 924 miliar setahun, realisasinya hanya Rp 302 sampai Rp 404 miliar. Biaya operasional membengkak 110%–270% sampai kemampuan bayar utangnya ambruk," ujarnya kepada Kontan.co.id, Minggu (26/7/2026).
TAG: