SKK Migas: Peminat produk LNG Masela sudah tembus 50%



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengungkapkan peminat produk gas alam cair (LNG) Masela telah mencapai 50%.

Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto bilang jika telah memenuhi sekitar 80% dari total produksi maka dari sisi pemasaran sudah dinilai cukup.

"Untuk LNG, PLN sudah nyatakan minat sekurang-kurangnya dua sampai tiga juta ton per tahun (mtpa). Dari luar ada Jepang, Tiongkok dan Taiwan," ungkap Dwi di Jakarta, Selasa (4/8).


Baca Juga: Open data Masela terkendala restu ESDM

Adapun, produksi LNG Proyek Masela direncanakan berkapasitas sekitar 9,5 mtpa dan gas pipa sebesar 150 juta kaki kubik per hari (mmscfd).

Masih menurut Dwi, kondisi harga energi yang menurun memang di luar acuan yang digunakan oleh SKK Migas dan Inpex selaku operator.

Pasalnya saat itu, acuan harga minyak yang digunakan yakni pada kisaran US$ 60 per barel. Sementara dampak pandemi covid-19 membuat harga minyak tertekan di kisaran US$ 40 per barel.

Kondisi sama terjadi untuk harga LNG yang sempat menyentuh level di bawah US$ 2 per MMBTU meskipun mulai membaik ke level US$ 4 per MMBTU.

Ia mengakui kondisi saat ini memang membuat banyak pemain migas cukup gamang.

Kendati demikian pihaknya optimistis situasi bakal membaik jelang onstreamnya Masela di 2027 mendatang.

"Kan onstream di 2027, situasi mungkin tidak seperti ini. Kami analisa sudah mulai membaik untuk harga di tahun depan. Untuk menuju US$ 60 per barel di tahun depan," pungkas Dwi.

Sebelumnya, Inpex Masela Ltd telah melakukan penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) jual beli gas dari Proyek LNG Abadi, Masela dengan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) dan PT Pupuk Indonesia (Persero).

Baca Juga: Pemprov Maluku dan Petrotekno teken MoU penyiapan tenaga kerja Masela

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto mengungkapkan, nota kesepahaman ini dimaksudkan untuk memulai pembahasan atas penjualan dan pembelian untuk mensuplai gas LNG ke pembangkit listrik tenaga gas yang dioperasikan oleh PLN dan gas alam sebesar 150 juta standard kaki kubik per hari (mmscfd) untuk kilang co-production yang akan dibangun PT Pupuk Indonesia.

Dwi melanjutkan, nota Kesepahaman ini menandai pencapaian terbaru dari pengembangan Proyek LNG Abadi di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku, Indonesia.

Proyek ini sendiri disebut memiliki cadangan terbukti mencapai 18,5 TCF dan 225 juta barrel kondensat dan diklaim akan menjadi salah satu pilar penting sebagai engine of growth yang mampu menopang kebutuhan industri di Indonesia secara berkelanjutan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto