JAKARTA.Perusahaan pembiayaan masih mengandalkan pasar surat utang sebagai salah satu sumber utama mengail modal ekspansi. Prospek pasar obligasi tahun ini yang diperkirakan akan secemerlang tahun lalu, makin menarik korporasi untuk memanfaatkan peluang. Yang terbaru, Smart Multifinance melontarkan niatnya menerbitkan surat utang jangka menengah alias Medium Term Notes (MTN) tahun ini untuk memenuhi kebutuhan permodalan. Jermia E. Laksana, Direktur Pemasaran Smart Multifinance, mengungkapkan, nilai emisi MTN Smart Multifinance diperkirakan sebesar Rp 100 miliar. "Ini bisa menjadi alternatif di tengah langkah perbankan mengetatkan pendanaan (kredit)," ujarnya, Rabu (4/1). Tahun ini, kebutuhan modal Smart untuk ekspansi pembiayaan mencapai Rp 300 miliar. Sebanyak Rp 200 miliar akan digali dari perbankan berupa kredit modal kerja. Smart Multifinance sudah bekerjasama dengan BCA, Bank Permata, dan BII. Komposisinya, sebanyak 70% kredit diperoleh dari Permata dan BII. Sisanya, diperoleh dari BCA. Adapun sisa kebutuhan permodalan akan dicari Smart Multifinance dari pasar modal. Jermia menjelaskan, penerbitan instrumen seperti surat utang di pasar modal menjadi pilihan karena kebutuhan pembiayaan tidak lagi bisa hanya mengandalkan kredit bank. Bunga kredit bank sejauh ini tak kunjung turun kendati BI rate sudah terbilang rendah. Di sisi lain, perseroan juga terdesak kebutuhan ekspansi pembiayaan untuk menggenjot pertumbuhan kinerja.
Smart Multifinance terbitkan MTN Rp 100 miliar untuk mengail modal
JAKARTA.Perusahaan pembiayaan masih mengandalkan pasar surat utang sebagai salah satu sumber utama mengail modal ekspansi. Prospek pasar obligasi tahun ini yang diperkirakan akan secemerlang tahun lalu, makin menarik korporasi untuk memanfaatkan peluang. Yang terbaru, Smart Multifinance melontarkan niatnya menerbitkan surat utang jangka menengah alias Medium Term Notes (MTN) tahun ini untuk memenuhi kebutuhan permodalan. Jermia E. Laksana, Direktur Pemasaran Smart Multifinance, mengungkapkan, nilai emisi MTN Smart Multifinance diperkirakan sebesar Rp 100 miliar. "Ini bisa menjadi alternatif di tengah langkah perbankan mengetatkan pendanaan (kredit)," ujarnya, Rabu (4/1). Tahun ini, kebutuhan modal Smart untuk ekspansi pembiayaan mencapai Rp 300 miliar. Sebanyak Rp 200 miliar akan digali dari perbankan berupa kredit modal kerja. Smart Multifinance sudah bekerjasama dengan BCA, Bank Permata, dan BII. Komposisinya, sebanyak 70% kredit diperoleh dari Permata dan BII. Sisanya, diperoleh dari BCA. Adapun sisa kebutuhan permodalan akan dicari Smart Multifinance dari pasar modal. Jermia menjelaskan, penerbitan instrumen seperti surat utang di pasar modal menjadi pilihan karena kebutuhan pembiayaan tidak lagi bisa hanya mengandalkan kredit bank. Bunga kredit bank sejauh ini tak kunjung turun kendati BI rate sudah terbilang rendah. Di sisi lain, perseroan juga terdesak kebutuhan ekspansi pembiayaan untuk menggenjot pertumbuhan kinerja.