Smartfren membidik 11 juta pelanggan 4G



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Smartfren Telecom Tbk menargetkan jumlah pelanggan 4G mencapai 11 juta sampai akhir tahun nanti. Hingga semester satu lalu, Smartfren memiliki sekitar 7 juta pelanggan 4G.

Vice President Device Sourcing and Management Smartfren, Hartadi Novianto mengungkapkan, jika ditotal antara 4G dan CDMA, jumlah pelanggan Smartfren seluruhnya per semester satu lalu mencapai 11 juta. Dia menargetkan sampai akhir tahun, emiten bisa menggaet hingga 11 juta pelanggan untuk 4G.

Adapun, salah satu cara yang dilakukan oleh emiten berkode saham FREN ini adalah dengan meluncurkan produk handphone baru bernama Andromax Prime pada Kamis (5/10) lalu di Jakarta.


Sebagai gambaran, produk Andromax didesain dengan teknologi 4G. Handphone ini tidak menggunakan layar sentuh, tapi keypad qwerty dan one push button yang memudahkan pengguna menikmati layanan chatting, panggilan suara, dan panggilan video secara gratis melalu data call.

Hingga akhir tahun, Hartadi menargetkan penjualan 1 juta produk Andromax Prime. Dia mengklaim, segmentasi pasar produk ini tidak hanya menyasar kalangan menengah ke bawah, tetapi juga menengah ke atas yang masih membutuhkan keypad daripada layar sentuh, tetap dengan menggunakan teknologi 4G.

Asal tahu saja, saat ini, Smartfren sudah memiliki sekitar 1.000 BTS yang tersebar secara merata, baik di Jawa maupun luar Jawa. Presiden Direktur Smartfen, Merza Fachys mengatakan, sampai akhir tahun pihaknya menargetkan 1.500 hingga 2.000 BTS.

Mengutip laporan keuangan emiten, pada semester satu 2017 lalu, FREN berhasil membukukan pendapatan hingga Rp 2,1 triliun atau naik 32% dari periode yang sama tahun sebelumnya senilai Rp 1,58 triliun.

Kenaikan pendapatan tersebut juga diikuti oleh kenaikan beban operasional dari Rp 2,62 triliun pada semester satu 2016 menjadi Rp 3,06 triliun pada semester satu tahun ini. Menurut Merza, kenaikan beban tersebut disebabkan oleh perluasan jaringan.

Tingginya beban menyebabkan Smartfren masih mencetak kerugian bersih Rp 1,17 triliun per Juni 2017. Kerugian ini membengkak ketimbang periode yang sama tahun sebelumnya Rp 667,74 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati