KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah dinamika industri perbankan yang masih diwarnai tekanan biaya dana dan volatilitas pasar, PT Bank SMBC Indonesia Tbk (SMBC Indonesia) membuka tahun 2026 dengan kinerja yang stabil dan terukur. Alih-alih mengejar pertumbuhan agresif, bank ini memilih menjaga ritme ekspansi secara selektif. Pada Triwulan I-2026, penyaluran kredit SMBC Indonesia tercatat sebesar Rp 191,8 triliun, tumbuh 2,0% secara year-on-year (yoy). Di tengah kondisi industri yang menantang, pertumbuhan yang tetap terjaga ini mencerminkan stabilitas kinerja sekaligus disiplin ekspansi di awal tahun.
Baca Juga: Bagi Dividen 20%, SMBC Indonesia Sisakan Laba untuk Perkuat Modal “Pertumbuhan kredit yang tetap terjaga ini mencerminkan pendekatan kami yang selektif dan berimbang di tengah dinamika pasar. Kami melihat kontribusi kuat dari lini bisnis dengan momentum pertumbuhan yang baik, sementara pada segmen tertentu kami melakukan penyesuaian,” ujar Direktur Utama SMBC Indonesia, Henoch Munandar, Jumat (24/4/2026). Strategi tersebut tercermin dari komposisi pertumbuhan kredit. Segmen korporasi dan komersial tumbuh 4,1% yoy, menunjukkan kepercayaan pelaku usaha terhadap kapasitas pembiayaan dan solusi finansial yang ditawarkan bank. Kredit Jenius (di luar Digital Micro) meningkat 12,0% yoy, menegaskan penguatan basis nasabah digital yang terus berkembang. Sementara itu, pembiayaan Grup OTO tumbuh 5,0% yoy dan BTPN Syariah mencatat pertumbuhan 3,7% yoy, memperluas jangkauan pembiayaan hingga ke segmen masyarakat prasejahtera produktif. Pendekatan ini selaras dengan strategi quality growth yang diusung Perseroan yakni pertumbuhan yang menempatkan kualitas aset dan keberlanjutan profitabilitas sebagai prioritas utama. Di tengah risiko kredit yang perlu dikelola secara hati-hati, ekspansi yang lebih selektif menjadi kunci untuk menjaga ketahanan bisnis dalam jangka panjang. Di sisi neraca, total aset tumbuh 4,1% yoy menjadi Rp250,0 triliun. Pertumbuhan aset likuid yang meningkat signifikan, terutama dari penempatan pada surat berharga, semakin memperkuat fleksibilitas bank dalam mengelola likuiditas di tengah volatilitas pasar. Salah satu indikator paling menonjol pada kuartal ini adalah peningkatan dana murah (Current Account Saving Account/CASA) sebesar 40,6% yoy menjadi Rp59 triliun, dari Rp41,9 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Rasio CASA pun naik dari 35,7% menjadi 44,1%. Lonjakan CASA tersebut mencerminkan dua hal sekaligus: meningkatnya kepercayaan nasabah dan semakin efisiennya struktur pendanaan Perseroan. Dalam lingkungan suku bunga yang masih fluktuatif dan tekanan biaya dana yang dirasakan industri, peningkatan dana murah menjadi penopang penting bagi stabilitas margin. “Peningkatan CASA ini memperkuat struktur pendanaan Perseroan serta mendukung efisiensi biaya dana, sehingga kinerja dapat tetap terjaga secara berkelanjutan,” tambah Henoch. Kontribusi anak usaha turut memperkuat fondasi kinerja konsolidasi. BTPN Syariah membukukan laba bersih Rp319 miliar, tumbuh 2,8% yoy, dengan pembiayaan mencapai Rp10,6 triliun. Sementara Grup OTO mencatat laba bersih Rp113 miliar, melonjak 45,5% yoy, mencerminkan perbaikan momentum di sektor pembiayaan kendaraan.
Diversifikasi model bisnis mulai dari perbankan digital, pembiayaan syariah, pembiayaan kendaraan, hingga layanan korporasi dan komersial yang memberikan keseimbangan portofolio yang penting dalam menghadapi siklus ekonomi. Ketika satu segmen mengalami tekanan, segmen lain dapat menjadi penopang pertumbuhan. Dari sisi ketahanan, rasio likuiditas dan permodalan Perseroan tetap berada jauh di atas ketentuan regulator. Liquidity Coverage Ratio (LCR) tercatat 260,24%, Net Stable Funding Ratio (NSFR) 122,71%, dan Capital Adequacy Ratio (CAR) 29,63%. Posisi ini memberikan ruang yang lebih luas bagi bank untuk tetap melakukan ekspansi secara terukur, sekaligus menjaga stabilitas di tengah ketidakpastian. Dalam konteks industri yang sedang menghadapi tekanan biaya dana dan dinamika risiko kredit, pendekatan ekspansi yang selektif bukanlah sinyal perlambatan, melainkan strategi untuk menjaga kualitas pertumbuhan. Dengan fondasi permodalan dan likuiditas yang solid, SMBC Indonesia memiliki fleksibilitas lebih besar untuk menangkap peluang ketika kondisi pasar membaik. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News