Smelter China Mau Pangkas Produksi Nikel, FINI: Imbas Permintaan EV Melambat



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah smelter China di Indonesia berencana memangkas produksi nikel, khususnya produk antara Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) hingga 50%.

Pemangkasan produksi nikel ini menjadi upaya produsen untuk menahan tekanan harga di tengah kondisi kelebihan pasokan (oversupply).

Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) Arif Perdanakusuma mengatakan, rencana pemangkasan produksi MHP tersebut berkaitan dengan meningkatnya tekanan pada rantai pasok bahan baku baterai. Kondisi ini tak terlepas dari perlambatan pertumbuhan permintaan kendaraan listrik (electric vehicle/EV), terutama di negara-negara Barat.


"Rencana pemangkasan yang besar pada produk MHP, sebesar 50%, mengisyaratkan upaya produsen untuk mengurangi kelebihan pasokan pada rantai pasok baterai yang saat ini terdampak perlambatan permintaan kendaraan listrik di negara-negara Barat," jelasnya kepada Kontan, Jumat (30/10/2026).

Baca Juga: Pasokan Nikel Berlebih, Empat Raksasa China Berencana Pangkas Produksi di Indonesia

Arif menyebut, pada akhir Oktober 2026 ini, produsen nikel utama asal China memang dikabarkan sepakat memangkas produksi di sejumlah pabrik peleburan nikel mereka di Indonesia. Langkah tersebut dilakukan untuk meredam tekanan terhadap harga nikel global.

Jika rencana tersebut mulai direalisasikan pada November dan Desember 2026, Arif memperkirakan, kontraksi produksi nikel sepanjang tahun ini akan semakin dalam.

Menurutnya, rencana pemangkasan tersebut juga mengindikasikan tekanan terhadap margin keuntungan yang bahkan mulai dirasakan produsen nikel berskala besar. Dus, produsen dinilai perlu melakukan penyesuaian produksi untuk menyeimbangkan kembali pasokan dan permintaan di pasar.

Kendati demikian, Arif mengatakan pelaku industri masih menunggu kejelasan mengenai implementasi rencana pemangkasan produksi tersebut. Sejumlah hal yang menjadi perhatian antara lain dampaknya terhadap pasar hingga durasi pelaksanaannya.

Selain itu, lanjutnya, pelaku industri juga belum memperoleh informasi apakah rencana pemangkasan tersebut telah memperhitungkan pengurangan produksi yang sudah berlangsung di sepanjang rantai pasok industri nikel dalam beberapa bulan terakhir.

"Pasar saat ini akan menunggu realisasi dari pengurangan produksi yang diusulkan tersebut. Pelaku pasar juga menanti mengenai apakah pengurangan yang diusulkan tersebut pada akhirnya akan benar-benar terealisasi dan berapa lama durasinya," kata Arif.

Baca Juga: Revisi RKAB 2026 Disetujui, Pasokan Nikel dan Batubara Berpotensi Defisit

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News