KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Fasilitas pemrosesan dan pemurnian (smelter) baru PT Freeport Indonesia (PTFI) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) JIIPE Gresik, Jawa Timur telah kembali beroperasi pada bulan ini, setelah sebelumnya berhenti beroperasi pada kuartal keempat tahun lalu imbas insiden longsor di tambang bawah tanah Freeport. Direktur Utama Freeport Indonesia Tony Wenas menjelaskan, proses produksi smelter baru PTFI akan memasuki tahap peningkatan produksi (ramp up) setelah mulai mendapatkan pasokan konsentrat pada Agustus 2026. Pada September ini, produksi katoda tembaga dari smelter tersebut ditargetkan mencapai sekitar 5.000 ton.
Baca Juga: Bumame Buka Klinik Keenam, Bidik 20 Lokasi di Jabodetabek pada Kuartal I 2027 "Baru di bulan Agustus lalu feeding-nya ke smelter baru Freeport Indonesia itu mulai, dan mulai bisa diproduksi di bulan September ini dengan sekitar 5.000 ton katoda tembaga," jelasnya dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen, dikutip Jumat (18/9/2026). Dengan mulai beroperasinya kembali smelter baru ini, total produksi tembaga PTFI sepanjang 2026 mencapai sekitar 800 juta pound yang berasal dari PT Smelting dan smelter baru Freeport. "Jadi total tahun 2026 ini seperti saya sampaikan tadi ada 800 juta pound tembaga yang akan dihasilkan dari dua smelter, yaitu PT Smelting sebesar 600 juta pound dan juga dari smelter PTFI yaitu 200 juta pound tembaga," ujar Tony dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen, dikutip Jumat (18/9/2026). Selain tembaga, operasional kedua smelter juga akan menghasilkan berupa emas dan perak. Tony memperkirakan produksi emas PTFI pada tahun ini mencapai sekitar 700.000 ounces atau setara dengan kurang lebih 21 ton. Sementara itu, fasilitas Precious Metal Refinery (PMR) yang berada di kompleks smelter PTFI akan menghasilkan sekitar 103 ton perak batangan. Produksi logam mulia tersebut menjadi bagian dari produk yang dihasilkan melalui proses pemurnian konsentrat tembaga.
Baca Juga: Antam: Pasokan Emas Freeport Masih Berjalan, Realisasi Bertahap "Dan akan dihasilkan juga emas sebesar kira-kira 700.000 ounces yang kalau ditonasekan 21 ton, dan juga ada perak batangan yang akan dihasilkan dari
precious metal refinery yang berlokasi di dalam smelter PTFI itu sebesar 103 ton," kata Tony. Tak hanya logam, aktivitas pengolahan di kedua fasilitas tersebut juga menghasilkan sejumlah produk samping. PTFI memperkirakan produksi asam sulfat dari PT Smelting dan smelter baru PTFI mencapai sekitar 1,4 juta ton sepanjang tahun ini.
Selain itu, produksi
copper slag atau terak tembaga disebut mencapai sekitar 900.000 ton. Produk-produk tersebut merupakan bagian dari hasil samping proses pengolahan dan pemurnian konsentrat tembaga di fasilitas smelter PTFI dan PT Smelting. Diberitakan sebelumnya, PTFI mengungkap smelter baru di Gresik telah kembali beroperasi pada bulan Mei 2025. Namun, produksinya terhenti kembali akibat longsor yang terjadi di Grasberg Block Cave, di Papua yang mengakibatkan pasokan konsentrat terhenti. Smelter baru di Gresik ini memiliki kapasitas pengolahan mencapai 1,7 juta ton konsentrat per tahun. Sementara itu, PT Smelting turut meningkatkan produksinya sebesar 300.000 ton konsentrat per tahun. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News