KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Fenomena El Nino yang memicu penurunan pasokan air mulai menekan operasional sejumlah smelter nikel di Indonesia. Kondisi tersebut berpotensi memangkas produksi nikel, salah satunya di sejumlah kawasan industri di Sulawesi. Melansir pemberitaan
Bloomberg, sejumlah perusahaan di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) diminta mengurangi produksi
nickel pig iron (NPI) akibat keterbatasan pasokan air. Adapun NPI merupakan bahan baku yang digunakan dalam produksi
stainless steel. Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) Arif Perdanakusuma menyatakan, pihaknya turut mendapatkan laporan adanya beberapa lokasi proyek pengolahan dan pemurnian nikel yang mulai terdampak penurunan produksi imbas fenomena El Nino tahun ini.
Baca Juga: Brent Tembus US$ 107, Pengamat: Harga Keekonomian Pertamax Capai Rp 18.650 per Liter Menurut Arif, pasokan air ialah bahan penunjang produksi yang vital untuk industri nikel baik untuk jalur pirometalurgi maupun hidrometalurgi. Kebutuhan air pada jalur pirometalurgi berfokus untuk sistem pendinginan (
cooling system), sehingga air dibutuhkan secara konstan untuk mendinginkan dinding
furnace guna mencegah bahaya keretakan atau ledakan. Terak atau slag cair hasil peleburan yang panas, lanjutnya, disemprot dengan air bertekanan tinggi agar langsung membeku dan pecah menjadi butiran kecil (granular), sehingga mudah diolah atau ditempatkan. "Sementara pada jalur pirometalurgi, air juga digunakan pada sistem
scrubber untuk menangkap debu, partikel halus, dan gas dari cerobong asap sebelum dilepas ke lingkungan," kata Arif kepada Kontan, Senin (28/9/2026). Meskipun memang, kebutuhan air pada jalur hidrometalurgi disebut jauh lebih besar dibandingkan pirometalurgi. Hal ini lantaran air merupakan media utama seluruh reaksi, di antaranya sebagai media pelarut dan reaksi kimia, proses pencucian dan pemisahan logam, serta proses pengenceran.
Baca Juga: Intip Proyeksi Harga Pertamax Series di Oktober 2026, Brent Tembus ke US$ 100 "Jalur hidrometalurgi seperti teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL) mengolah bijih limonit kadar rendah menjadi
Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) untuk bahan baku baterai," jelas Arif. Ia menambahkan, smelter nikel juga umumnya ditopang oleh pembangkit listrik mandiri (
captive power plant) Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) atau dengan pemanfaatan batubara. Turbin uap pada PLTU itu, kata Arif, membutuhkan pasokan air yang masif untuk dijadikan uap pendorong turbin. Adapun air juga diperlukan untuk mendinginkan kondensor pembangkit listrik. Di sisi lain, beberapa kawasan industri nikel juga memanfaatkan atau sedang bertransisi ke Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) untuk memenuhi kebutuhan energi bersih. Yang mana, dengan kondisi kemarau panjang saat ini, Arif memandang penurunan debit air sungai/danau juga akan menurunkan kapasitas produksi listrik PLTA secara drastis.
Menurut Arif, fenomena El Nino tahun ini menyebabkan musim kemarau yang lebih panjang terutama di sebagian besar wilayah Sulawesi dan Maluku Utara. Meskipun begitu, ia mengungkap hingga saat ini belum ada hitungan secara pasti terkait dampak El Nino terhadap angka produksi nikel dan nilai ekspornya tahun ini karena karakteristik setiap proyek yang bervariasi. "Masing-masing proyek pengolahan dan pemurnian mengalami dampak dan tingkatan yang berbeda-beda, tergantung lokasi, kebutuhan air, ketersediaan sumber air dan lain-lain," tandasnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News