SMF Salurkan Rp 500 Miliar ke BTN Untuk KPR



JAKARTA. PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF menyalurkan dana sebesar Rp 500 miliar ke PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) untuk pembiayaan kredit pemilikan rumah (KPR). Pembiayaan ke BTN ini berbentuk term purchase program (TPP) yang berjangka waktu lima tahun.

TPP adalah program pembelian aset KPR BTN oleh SMF. Nah, duit dari SMF oleh BTN akan digunakan sebagai sumber pembiayaan baru.

“Underlying asset-nya KPR di Jakarta dengan nilai yang sama,” ujar Direktur SMF Yudhi Ismail, Selasa (22/6).


Yudhi melanjutkan, SMF memilih nilai aset KPR yang mereka beli, masing-masing Rp 30 juta. Dus, program ini melibatkan lebih dari 15.000 debitur BTN.

Nantinya, SMF akan memperoleh pelunasan Rp 100 milar per tahun plus pendapatan dari bunga KPR. Porsinya, dengan asumsi BTN mematok bunga KPR sebesar 14%, SMF akan menerima sebesar10% dan BTN sebesar 4%.

Soal sumber dana, sambung Yudhi, berasal dari obligasi SMF III 2010 yang nilainya sebesar Rp 800 miliar. Obligasi tersebut rencananya bakal terbit pada Juni 2010 ini.Selain pembiayaan TPP, SMF juga terus menggenjot bisnis sekuritisasi. Sedikit berbeda dengan TPP, dalam program ini, peran SMF di sini adalah sebagai penerbit sekuritisasi yang memiliki underlying asset KPR bank. Nantinya sekuritisasi dijual ke investor. Lalu, duit penjualan diberikan ke bank tersebut.

Nah, untuk program ini, setelah puas bekerja sama dengan BTN, Yudhi mengaku, saat ini ada dua bank yang tengah diseleksi SMF untuk menjadi partner sekuritisasi dengan target nilai Rp 250 miliar. "Satu bank swasta, dan satu bank pemerintah. Nah, yang swastanya adalah Bank Niaga," bebernya.

Sayangnya, Yudhi masih enggan membocorkan nama bank pelat merah yang menjadi calon mitra SMF. Dia hanya mengindikasikan bank itu memiliki KPR cukup besar dan punya loan to deposite ratio (LDR) di atas 80%.

SMF menargetkan sekuritisasi tagihan KPR tahun ini mencapai Rp 1 triliun. Sebelumnya, SMF telah mengantongi komitmen dengan BTN untuk program serupa senilai Rp 750 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Uji Agung Santosa