SMGR incar perusahaan material bangunan



JAKARTA. PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) masih akan mendorong ekspansi anorganik pada tahun depan. Perseroan ini sedang membidik akuisisi perusahaan material bangunan, yang rencananya dilakukan di 2017. Hal ini sebagai upaya SMGR mendorong pendapatan dari sektor hilir.

"Memang sedang ada penurunan permintaan semen domestik. Makanya, kami mendorong juga portofolio non-semen. Kami sudah ada beton, lalu bisa berlanjut ke building material," ujar Direktur Utama SMGR Rizkan Chandra, Kamis (29/12).

Sayangnya, ia belum bersedia menyebutkan nama perusahaan yang tengah diincar. Ia juga masih menutup rapat berapa dana yang dianggarkan SMGR untuk menguasai perusahaan tersebut.


Asal tahu saja, sebelumnya perusahaan pelat merah ini sudah memiliki anak usaha PT Semen Indonesia Beton. Anak usaha ini diharapkan bisa membuka peluang akuisisi perusahaan beton ataupun membangun perusahaan baru.

SMGR juga tidak melulu mengincar perusahaan yang ada di dalam negeri. Rizkan menyebut, pihaknya tetap membuka peluang akuisisi perusahaan di luar negeri. Pada tahun Ayam Api nanti, SMGR membidik pertumbuhan pendapatan sekitar Rp 30 triliun.

Meski permintaan semen dari sektor ritel belum membaik, Rizkan optimistis permintaan dari sektor infrastruktur masih tumbuh. Tahun ini, perusahaan pelat merah ini masih mampu mencetak pertumbuhan di atas pertumbuhan industri semen nasional.

"Kebutuhan belanja modal biasanya sekitar 25% dari pendapatan," ujar Rizkan.

SMGR menargetkan volume penjualan semen tahun depan tumbuh sekitar 4%–5% atau mencapai 27,4 juta ton. Prediksinya, penjualan semen tahun ini hanya naik 2% atau sekitar 26,3 juta ton.

Dalam menghadapi kelebihan kapasitas industri semen, produsen semen ini juga mendorong penjualan pasar ke negara tetangga di Asia Tenggara.

Selain itu, perseroan ini juga berharap, permintaan dari sektor properti dalam negeri akan mulai pulih pada tahun depan. Hingga kuartal III-2016, SMGR mencetak pendapatan sebesar Rp 19,08 triliun. Jumlah ini turun tipis dari pendapatan di periode yang sama tahun lalu, sebesar Rp 19,11 triliun.

Perseroan ini juga membukukan laba bersih sekitar Rp 2,9 triliun, turun dari periode yang sama di 2015 sebesar Rp 3,1 triliun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie