SMGR menganggarkan belanja modal Rp 6 triliun



JAKARTA. PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) menyiapkan belanja modal alias capital expenditure (capex) sebesar Rp 6 triliun tahun ini. SMGR akan menggunakan sebagian besar belanja modal untuk ekspansi pembangunan pabrik di sejumlah daerah.

Agung Wiharto, Sekretaris Perusahaan SMGR, mengatakan, dana Rp 6 triliun akan digunakan untuk pembangunan pabrik baru di Aceh dan Kupang dengan kapasitas 2,5 juta–3 juta ton per tahun. SMGR menargetkan pembangunan pabrik di Aceh rampung pada 2019 dan Kupang pada 2020.

"Investasi untuk masing-masing pabrik ini sekitar Rp 3 triliun–Rp 4 triliun. Untuk tahun ini kami anggarkan masing-masing Rp 1 triliun," ujar Agung, Kamis (5/1).


SMGR akan menutup 40% kebutuhan belanja modal dari kas internal dan sisanya dari utang bank maupun obligasi. Bahkan pembiayaan dari eksternal ini bisa membengkak menjadi 70%.

Selain untuk membuat dua pabrik baru, SMGR juga akan menggunakan belanja modal untuk pembuatan packing plant di dua lokasi, yaitu Bengkulu dan Maluku. Emiten pelat merah ini pun akan menyelesaikan waste heat recovery power generation (WHRPG) di Tuban dengan kapasitas 35 mega watt.

Semen Indonesia akan menggunakan sisa dana belanja modal untuk penyelesaian pabrik di Indarung dan Rembang. Namun, pabrik Rembang masih tersangkut masalah pembatalan izin lingkungan oleh Mahkamah Agung.

"Untuk izin lingkungan pabrik Rembang masih menunggu keputusan Gubernur Jawa Tengah," imbuh Agung.

Keputusan dikeluarkan atau tidaknya izin lingkungan itu ditentukan pada 17 Januari, sebagai batas waktu Gubernur Jawa Tengah melaksanakan putusan Mahkamah Konstitusi. Lagi pula, meskipun izin dibatalkan, bisa diterbitkan kembali.

Agung menyatakan, SMGR menghormati keputusan hukum MA yang membatalkan surat izin lingkungan, saat ini tinggal menunggu izin itu keluar. Agung menambahkan, sejak semula SMGR menyiapkan pabrik yang ramah lingkungan. Bahkan pabrik Semen Rembang tersebut sudah hampir rampung.

Tahun ini SMGR menargetkan produksi naik 5% dari realisasi tahun lalu, yang mencapai 64 juta ton. Pertumbuhan ini sudah memperhitungkan kontribusi hasil produksi Pabrik Indarung, yang akan segera beroperasi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie