KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Sinergi Multi Lestari Tbk (SMLE) mulai menggeser mesin pertumbuhan bisnis dari distribusi bahan baku menuju produk dan solusi bernilai tambah. Strategi ini ditempuh melalui diversifikasi portofolio di empat lini utama, yakni bahan baku makanan,
Home & Personal Care, kimia industri, dan wewangian. Untuk menopang strategi tersebut, SMLE menyiapkan peta jalan bisnis 2026–2027 yang mengandalkan diversifikasi produk serta penguatan kemitraan dengan prinsipal global. Perseroan membidik segmen dengan aplikasi yang lebih luas untuk memperbesar peluang pertumbuhan sekaligus memperkuat posisi di pasar domestik. Di bisnis
food ingredients, SMLE mulai memperluas portofolio ke sejumlah produk bernilai tambah. Produk yang dikembangkan antara lain protein susu fungsional, perisa alami, pelapis untuk permen dan cokelat, serta pewarna alami.
Direktur SMLE Siu Min mengatakan perseroan juga menggandeng mitra baru untuk menghadirkan produk probiotik, pascabiotik, protein susu kambing, hingga solusi penetral rasa pahit.
Baca Juga: SMLE Perkuat Riset Lini Bisnis Fragrance "Strategi kami untuk
food ingredients di 2026 di dorong ke protein susu fungsional, perisa alami, pelapis untuk permen dan cokelat, serta pewarna alami sebagai lini bisnis baru. Kami juga mendapatkan kemitraan baru untuk produk probiotik, pascabiotik, protein susu kambing, serta solusi penetral rasa pahit," ujar Siu Min dalam keterangannya dikutip, Selasa (22/9/2026). Selain food ingredients, ekspansi portofolio juga dilakukan pada divisi
Home & Personal Care, Industrial Chemical, dan
Fragrances. Langkah ini menjadi bagian dari upaya SMLE memperluas basis bisnis sekaligus meningkatkan kontribusi produk bernilai tambah terhadap pertumbuhan perseroan. Dari sisi ekspansi bisnis, SMLE tengah menyiapkan pembentukan usaha patungan dengan mitra asal China yang memiliki keahlian di bidang material
biodegradable. Kolaborasi tersebut akan menggabungkan teknologi manufaktur mitra dengan jaringan distribusi SMLE untuk menyasar pasar plastik mudah terurai di Indonesia. Transformasi bisnis SMLE dari distribusi bahan baku menuju manufaktur dan formulasi khusus bernilai tambah terus dipacu di tengah perubahan struktur kepemilikan saham. Perubahan tersebut tercermin dari berkurangnya porsi pemegang saham pengendali sekaligus meningkatnya kepemilikan publik dan masuknya sejumlah investor institusi.
Baca Juga: Konflik Timteng Pengaruhi Bahan Baku, LOTTE Chemical Prioritaskan Pasokan Domestik Berdasarkan data registrasi pemegang saham per 31 Agustus 2026, PT Sinergi Asia Corporindo yang dikendalikan Direktur Utama SMLE Siu Min kini memegang 56,73% saham atau 1,32 miliar lembar, turun dari sebelumnya di atas 72% setelah melakukan divestasi secara bertahap sepanjang 2026. Sebagian saham tersebut diserap investor perorangan Ferdiansyah yang kini menguasai 144,33 juta saham atau 6,20%, sekaligus menjadi pemegang saham individu domestik terbesar di luar pemegang saham pengendali.
Porsi saham publik SMLE juga meningkat menjadi 34,57% atau 802,98 juta saham yang tersebar pada 2.905 pemegang saham. Di sisi publik, investor perorangan Njono Sampoerno menguasai 84,23 juta lembar atau setara 3,62%. Di sisi lain, sejumlah investor institusi asing dan reksa dana turut tercatat dalam struktur pemegang saham SMLE, antara lain Phillip Securities Pte Ltd sebesar 4,31%, UOB Kay Hian Pte Ltd 3,80%, CGS International Securities Singapore 2,78%, dan Reksa Dana OSO Moluccas Equity Fund 1,21%. Perseroan juga disebut-sebut telah menerima Letter of Interest dari calon investor strategis yang berpotensi memengaruhi struktur pengendalian sahamnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News