JAKARTA. Direktur Amrta Institute Nila Ardhianie mengatakan Jakarta saat ini sudah masuk dalam fase darurat air bersih. Penyediaan air bersih di Jakarta yang dilakukan oleh PT Palyja dan PT Aetra pun hanya mampu melayani sekitar 35% kebutuhan air warga Jakarta. Akibatnya, penduduk dan industri banyak bergantung pada air tanah yang diambil langsung dari sumur. Padahal sumur di Jakarta sudah banyak yang tercemar dan pemanfaatan air tanah berlebihan dapat menyebabkan penurunan tanah yang dapat meningkatkan risiko banjir. Penelitian Amrta Institute awal 2017 menunjukkan bahwa dalam 15 tahun terakhir ketergantungan pada air tanah tidak menunjukkan penurunan. Angkanya stabil di sekitar 63-65% setiap tahunnya.
Soal air, Jakarta tertinggal jauh dari Surabaya
JAKARTA. Direktur Amrta Institute Nila Ardhianie mengatakan Jakarta saat ini sudah masuk dalam fase darurat air bersih. Penyediaan air bersih di Jakarta yang dilakukan oleh PT Palyja dan PT Aetra pun hanya mampu melayani sekitar 35% kebutuhan air warga Jakarta. Akibatnya, penduduk dan industri banyak bergantung pada air tanah yang diambil langsung dari sumur. Padahal sumur di Jakarta sudah banyak yang tercemar dan pemanfaatan air tanah berlebihan dapat menyebabkan penurunan tanah yang dapat meningkatkan risiko banjir. Penelitian Amrta Institute awal 2017 menunjukkan bahwa dalam 15 tahun terakhir ketergantungan pada air tanah tidak menunjukkan penurunan. Angkanya stabil di sekitar 63-65% setiap tahunnya.