Soal bisnis kredit: BRI revisi RBB, BCA tak berubah



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah bank besar di Indonesia merasa yakin dapat meningkatkan bisnis kredit hingga akhir tahun. PT Bank Central Asia Tbk (BCA), misalnya. Bank swasta ini tidak merevisi rencana bisnis bank (RBB) khususnya kredit.

Hingga Juli 2018, Bank dengan kode sandi saham BBCA ini telah menyalurkan pertumbuhan kredit 14% secara tahunan atau year on year (yoy). Pada tujuh bulan pertama, BCA menyalurkan kredit Rp 495,23 triliun. Posisi yang sama tahun lalu hanya Rp 434,4 triliun.

Melihat ini kinerja ini, Direktur Keuangan BCA Vera Eve Lim mengatakan tidak akan merevisi target kredit sesuai dengan RBB. Meskipun pada awal tahun manajemen menargetkan dapat menyalurkan kredit 10% yoy sepanjang 2018.


"So far kita keep target," ujar Vera kepada Kontan.co.id pada Rabu (5/9). Lanjut Vera kinerja kredit hingga Juli 2018 ditopang oleh kontribusi segmen kredit yang sama dengan posisi Juni 2018. Dimana semuan segmen kredit menopang kinerja tersebut.

Begitupun dengan non performing loan (NPL) hingga Juni masih bisa dipertahankan di level 1,4%-1,5%.

Lain halnya dengan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk yang tengah mengajukan proposal perubahan RBB tahun 2018. Terutama merevisi rencana bisnis penyaluran kredit. Penyaluran kredit pada Juli 2018 tumbuh di angka 16,49% secara tahunan menjadi Rp 766,01 triliun. Pada posisi yang sama tahun lalu hanya Rp 657,59 triliun.

"Ini yang kita revisi (RBB) secara keseluruhan. Namun yang sangat signifikan adalah pertumbuhan kredit yang awalnya 12% yoy. Revisi jadinya 14% yoy," ujar Direktur Keuangan BRI Haru Koesmahargyo.

Haru menyatakan RBB ini masih merupakan proposal yang disampaikan kepada regulator yakni Otoritas Jasa Keuangan. Haru melanjutkan revisi RBB lainnya menysuaikan pertumbuhan kredit.

"Kredit tidak berdiri sendiri, kita juga target simpanan sesuaikan sehingga dapat menopang pertumbuhan kredit," tambah Haru.

Direktur Hubungan Kelembagaan BRI Sis Apik Wijayanto menambahkan revisi kredit ini lantaran pertumbuhan ekonomi nasional yang membaik di semester 1-2018 di angka 5,27%. Pertumbuhan ekonomi ini menurut Sis Apik turut menjadi pertimbangan revisi kredit BRI. Selain itu juga produktivitas dengan adanya BRI Spot membuat layanan kredit semakin membaik.

Haru menyatakan pada semester dua ini, kredit paling deres bakal datang dari kredit mikro dan UKM. Tak heran, manajemen berencana bakal memperkecil kontribusi kredit korporasi hingga 20% hingga 5 tahun ke depan. Haru bilang saat ini kontribusi kredit korporasi sebanyak 25% dari total kredit. Sehingga kredit mikro memiliki kontribusi terhadap kredit 40%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie