KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merespon pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati level Rp 17.000 per dolar AS, di tengah derasnya arus modal masuk (capital inflow) serta kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencetak rekor tertinggi sepanjang masa ke level 9.075,41 pada Senin lalu (19/1). Kondisi ini dinilai menjadi anomali karena tidak sejalan dengan penguatan indikator fundamental ekonomi. Purbaya menegaskan bahwa kebijakan nilai tukar sepenuhnya berada di bawah kewenangan bank sentral, sehingga pemerintah tidak memiliki ruang untuk melakukan intervensi langsung.
“Tanya saja ke Bank Sentral apa yang terjadi. Ketika capital inflow masuk ke sini besar, kenapa rupiahnya melemah? Karena saya enggak bisa intervensi untuk kebijakan nilai tukar, itu otoritas Bank Sentral,” ujar Purbaya saat ditemui saat makan siang di kompleks Perkantoran Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Senin (20/1/2026).
Baca Juga: Asosiasi Hilir Plastik Minta Pemerintah Kaji Ulang Kebijakan BMAD dan BMTP Meski demikian, ia menilai pelemahan rupiah tersebut masih relatif terbatas. Secara year to date (ytd), depresiasi rupiah berada di kisaran 2%–3%, sehingga dampaknya terhadap perekonomian nasional dinilai masih bisa dikendalikan. “Kalau pelemahan dilihat dari persentase, kan sedikit dibanding level sebelumnya. Jadi harusnya sistem kita terjaga dan dampaknya ke ekonomi minimum,” katanya. Purbaya menekankan bahwa stabilitas nilai tukar sangat bergantung pada kekuatan fundamental ekonomi. Selama pondasi ekonomi terus membaik dan aktivitas ekonomi domestik meningkat, kepercayaan investor, baik domestik maupun asing akan tetap terjaga. Ia menunjuk kinerja pasar modal sebagai salah satu indikator kepercayaan tersebut. Menurutnya, penguatan IHSG tidak mungkin terjadi tanpa dukungan arus dana investor. “Anda lihat pasar modal kan naik. Pasar modal enggak mungkin naik kalau enggak ada investor asing atau investor domestik masuk ke sini juga,” ujarnya. Dari sisi pasokan valuta asing, Purbaya menilai tidak ada indikasi kekurangan dolar AS. Karena itu, ia memandang pelemahan rupiah saat ini tidak sejalan dengan kondisi fundamental ekonomi yang terus membaik. “Kalau ekonomi kita kita jaga terus dan kita perbaiki ke depan, rupiah akan cenderung menguat. Enggak ada alasan rupiah melemah ketika modal masuk ke sini,” tegasnya. Menanggapi perbedaan arah antara IHSG yang mencetak all time high dan rupiah yang justru melemah, Purbaya mengaku memiliki penilaian tersendiri. Namun, ia memilih untuk tidak mengungkapkannya ke publik. “Saya punya assessment, tapi saya enggak boleh ngomong. Anda tanya ke Bank Sentral aja apa yang terjadi,” ujarnya. Lebih lanjut, Purbaya menyampaikan bahwa pemerintah terus memperkuat koordinasi kebijakan melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) bersama Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Dengan dukungan DPR, ia optimistis sinergi kebijakan akan mendorong seluruh mesin ekonomi bergerak lebih cepat.
Baca Juga: MBG Menyasar 55,5 Juta Penerima dan Salurkan 3,7 Milyar Porsi Makanan pada 2025 Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News