Soal Perpanjangan Penempatan Dana SAL Rp 200 Triliun, Ini Respon BRI



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) menyambut positif perpanjangan penempatan dana saldo anggaran lebih (SAL) senilai Rp 200 triliun di bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).

Farida Thamrin, Direktur Treasury and International Banking BRI menyatakan, perpanjangan dana SAL menjadi kabar baik bagi perbankan termasuk BRI.

“Kita sangat gembira sekali karena ada informasi dari Kementerian Keuangan bahwa penempatan dana pemerintah SAL yang akan jatuh tempo, kalau di BRI itu 13 Maret 2026, akan diperpanjang,” ujarnya saat paparan kinerja perseroan, Kamis (26/2).


Baca Juga: BRI Optimistis Tahun 2026 Lebih Baik, Bidik Pertumbuhan Kredit 7%-9%

Menurutnya, perpanjangan ini berdampak positif terhadap stabilitas likuiditas perbankan. “Dengan perpanjangan SAL ini, kita semakin yakin stabilitas likuiditas perbankan akan sangat terjaga. Kalau likuiditas terjaga, maka transmisi kebijakan fiskal ke sektor riil juga akan semakin optimal,” jelasnya.

Farida menerangkan, di BRI, total dana SAL yang diterima mencapai Rp 80 triliun. Rinciannya, Rp 55 triliun merupakan bagian dari skema Rp 200 triliun tersebut, sementara Rp 25 triliun lainnya merupakan penempatan jangka pendek yang tidak diperpanjang.

“Dari keseluruhan dana SAL itu, sudah kita salurkan ke berbagai segmen debitur. Mayoritas ke sektor mikro, hampir 50% dari total penyaluran,” kata Farida.

Selain mikro, penyaluran juga dilakukan ke segmen small and medium enterprise (SME), konsumer, serta sebagian kecil ke korporasi. Dari sisi sektor ekonomi, dana tersebut mengalir ke berbagai sektor riil seperti pertanian, kehutanan, perikanan, serta sektor-sektor lain yang mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

BRI menilai, perpanjangan dana SAL akan memberikan sentimen positif terhadap pertumbuhan kredit perbankan ke depan. Namun demikian, Farida menegaskan bahwa pertumbuhan kredit tidak hanya ditentukan oleh sisi likuiditas (supply), tetapi juga kualitas permintaan (demand) dari sektor riil.

“Stimulus likuiditas ini memperkuat sisi supply. Tapi faktor demand juga menjadi kunci agar kredit perbankan bisa terus meningkat secara sehat,” pungkasnya.

Baca Juga: Bank Rakyat Indonesia (BBRI) Kantongi Laba Rp 57,13 Triliun pada 2025

Selanjutnya: AS Siapkan Kenaikan Tarif hingga 15%, Indonesia Masuk Daftar Investigasi Dagang

Menarik Dibaca: Jadwal Tukar Uang Baru BI Jogja Periode 2, Catat Tanggal Pentingnya!

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News