Soal Potensi Penurunan Harga BBM Non Subsidi di Bulan Juli, Begini Kata Bahlil



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia buka suara terkait potensi harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi di bulan Juli 2026.

Bukan tanpa alasan, harga BBM non subsidi jenis RON 92 atau Pertamax yang melonjak hingga Rp 16.250 per liter di pertengahan bulan Juni lalu, mendapat sorotan masyarakat.

Bahlil belum mengonfirmasi terkait potensi penurunan harga BBM non subsidi tersebut di Juli nanti. Ia pun meminta agar masyarakat menunggu keputusan resmi dari pemerintah.


Baca Juga: Momentum 8 Dekade BNI, Transformasi Perkuat Kinerja dan Daya Saing

"Kita lihat saja, teman-teman juga harus fair dong. Pada saat harga minyak lagi naik, dua bulan lebih hampir tiga bulan kan enggak kita naikkan. Masa baru naik dua minggu atau tiga minggu? teman-teman sudah tanya itu," ujarnya di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (29/6/2026).

Sekedar mengingatkan, harga BBM non subsidi mengalami kenaikan untuk pertamax (RON 92) melambung dari Rp 12.300 per liter menjadi Rp 16.250 per liter. Lalu, Pertamax Green (RON 95) naik dari Rp 12.900 per liter menjadi Rp 17.000 per liter.

Namun, belakangan ini diketahui minyak dunia jenis Brent telah mengalami penurunan imbas dari meredanya konflik antar Amerika Serikat dan Iran. Harga minyak mentah jenis Brent turun ke level US$ 80 per barel.

Sebelumnya, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth M.V. Dumatubun menjelaskan, peninjauan nilai jual produk hilir migas ini terus dilakukan perusahaan secara rutin. 

Kebijakan penyesuaian harga tersebut nantinya bakal diselaraskan dengan dinamika serta perkembangan pasar energi global yang bergerak fluktuatif dalam beberapa waktu terakhir.

"Evaluasi harga BBM non subsidi dilakukan secara berkala bisa dalam periode waktu tertentu," ujarnya kepada Kontan.co.id, Selasa (23/6).  

Roberth mengungkapkan, pihaknya selalu memantau indikator pembentuk harga formula minyak mentah sebagai dasar penetapan tarif ritel produk BBM non-subsidi di dalam negeri. 

Terkait kepastian penurunan harga pada bulan depan, manajemen menyatakan peluang tersebut sangat terbuka lebar apabila indikator pasar internasional terus menunjukkan tren melandai. 

Baca Juga: Soraya Berjaya (SPRE) Memacu Pemasaran untuk Mengerek Kinerja Tahun Ini

Penurunan harga minyak dunia ini diharapkan mampu memberi dampak yang lebih kondusif bagi perhitungan harga keekonomian komoditas energi tersebut.

"Apabila fluktuasi harga pasar dalam kurun waktu tertentu ini cenderung positif stay menurun dan kondusif, karena mengikuti harga pasar maka potensi penyesuaian harga BBM non subsidi dapat dilakukan. Penyesuaian harga akan mengikuti harga pasar dan mempertimbangkan dua poin di atas," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News