Soal Storage Tambahan, Pertamina Masih Tunggu Instruksi Pemerintah



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Pertamina siap mendukung rencana pemerintah memperkuat ketahanan energi nasional melalui pembangunan fasilitas penyimpanan energi tambahan.

Namun hingga saat ini perusahaan pelat merah tersebut masih menunggu arahan lebih lanjut dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron mengatakan, pada prinsipnya Pertamina mendukung langkah pemerintah untuk meningkatkan kapasitas cadangan bahan bakar minyak (BBM) nasional.


Baca Juga: AZKO (ACES) Perkuat Ekosistem Smart Home Lewat SYNC, Penuhi Ramadan & Lebaran

Menurutnya, upaya memperbesar kapasitas cadangan energi sejalan dengan praktik global untuk menjaga stabilitas pasokan energi di tengah dinamika geopolitik dan potensi gangguan rantai pasok.

“Terkait rencana pembangunan storage tambahan, Pertamina saat ini masih menunggu arahan lebih lanjut dari Kementerian ESDM dan pada prinsipnya siap mendukung kebijakan pemerintah serta berkolaborasi dalam penguatan cadangan energi nasional,” ujar Baron kepada Kontan, Kamis (5/3/2026).

Sebelumnya, pemerintah tengah mempercepat pembangunan fasilitas penyimpanan minyak mentah (crude oil storage) berkapasitas hingga 90 hari di wilayah Sumatera. Proyek strategis tersebut juga disebut telah mengantongi calon investor untuk mendukung pembiayaannya.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan investor untuk pembangunan storage tersebut sudah tersedia. Sumber pendanaan akan berasal dari kombinasi investor dalam negeri dan luar negeri, namun tidak melibatkan investor dari Amerika Serikat.

“Investasinya bisa di-blending antara dalam negeri dan dari luar. Tapi bukan dari AS,” kata Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Rabu malam (4/3/2026).

Bahlil juga membuka peluang keterlibatan pihak swasta dalam pembangunan fasilitas penyimpanan tersebut. Fasilitas yang akan dibangun difokuskan untuk menyimpan minyak mentah sehingga pasokan crude dapat langsung diolah di kilang yang sudah ada untuk menghasilkan BBM.

Baca Juga: Penutupan Selat Hormuz Berpotensi Ganggu Ekspor Mobil, TMMIN Waspada

Kementerian ESDM menargetkan pembangunan fasilitas penyimpanan minyak mentah baru di Sumatera dapat dimulai pada tahun ini. Saat ini studi kelayakan atau feasibility study (FS) proyek tersebut masih berlangsung.

Saat ini standar minimum nasional untuk cadangan BBM ditetapkan selama 21 hari. Bahlil memastikan rata-rata stok BBM, minyak mentah, dan LPG nasional saat ini sudah berada di atas batas minimum tersebut.

Namun secara kapasitas infrastruktur, fasilitas penyimpanan energi Indonesia saat ini maksimal hanya mampu menopang kebutuhan sekitar 25–26 hari. Angka tersebut masih jauh di bawah standar internasional yang umumnya mencapai 90 hari cadangan energi strategis.

Di sisi lain, pemerintah juga mulai merealisasikan rencana diversifikasi impor minyak mentah dengan mendatangkan pasokan dari Amerika Serikat secara bertahap guna mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari kawasan Timur Tengah.

Bahlil mengungkapkan impor minyak mentah dari AS saat ini sudah mulai berjalan, meski volumenya masih terbatas. Hal ini disebabkan kapasitas fasilitas penyimpanan dalam negeri yang masih terbatas.

“Sekarang sudah mulai jalan, tapi bertahap. Tidak bisa sekaligus karena daya simpanan kita belum cukup,” ujar Bahlil.

Baca Juga: Sarinah Targetkan Kunjungan Naik 15% Saat Ramadan dan Lebaran 2026

Menurutnya, keterbatasan kapasitas storage menjadi kendala utama dalam meningkatkan volume impor minyak mentah dalam waktu cepat. Karena itu pemerintah mendorong percepatan pembangunan fasilitas penyimpanan energi baru.

“Masalah kami sekarang adalah di storage. Makanya kami mau buat sekarang storage,” katanya.

Bahlil juga menyampaikan rencana pembangunan storage tersebut telah dilaporkan kepada Presiden dan mendapat arahan agar segera direalisasikan guna memperkuat ketahanan energi nasional.

“Saya sudah melaporkan kepada Bapak Presiden dan Bapak Presiden memberikan arahan agar segera bangun. Kalau tidak kita akan terus bergantung,” tandasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News