Solusi Bangun (SMCB) Masih Cetak Laba Rp 659 Miliar Meski Industri Semen Tertekan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMBC) mengakui tahun 2025 bukan merupakan tahun yang mudah bagi perseroan. Perlambatan pasar semen nasional yang terjadi tahun lalu telah mempengaruhi capaian kinerja perseroan.

Namun,  Solusi Bangun Indonesia  menjadikan tahun 2025 sebagai mementum transformasi dalam sinergi bersama SIG selaku induk usaha untuk memperkuat resilensi di tengah tekanan industri.

Berdasarkan data Asosiasi Perusahaan Semen Seluruh Indonesia (ASPERSSI), sepanjang tahun 2025, volume produksi semen nasional tercatat turun sekitar 4,5% dari 67,8 juta ton menjadi 64,7 juta ton. Sejalan dengan itu, penjualan semen domestik juga menurun sekitar 1,5%.   Perlambatan tersebut dipengaruhi oleh melemahnya daya beli masyarakat, curah hujan tinggi yang menunda aktivitas konstruksi, serta perlambatan sejumlah proyek infrastruktur. Sementara itu, industri semen nasional juga masih menghadapi tantangan kelebihan kapasitas produksi, sehingga memperketat persaingan di pasar domestik.


Baca Juga: Penjualan SCG di Indonesia Tumbuh 15% pada 2025, Begini Strategi di 2026

Direktur Utama Solusi Bangun Indonesia Rizki Kresno Edhie Hambali menyampaikan, sebagai bagian dari PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG), pihaknya melaksanakan strategi transformasi yang berfokus pada optimalisasi operational excellence, peningkatan pengelolaan pemasaran dan penjualan, serta program efisiensi biaya di berbagai lini 

“Strategi transformasi itu dilakukan untuk menjaga fundamental dan profitabilitas di tengah tekanan industri,” kata Rizki dalam keterangannya, Senin (30/3/2026).    Dia menyebut, strategi transformasi itu dijalankan secara konsisten sejak semester kedua tahun 2025 tersebut. Hal iyi membantu Solusi Bangun Indonesia membukukan volume penjualan semen dan terak sebesar 12,1 juta ton. Perseroan meraup masih pendapatan sebesar n Rp10,7 triliun. Adapun tahun sebelumnya, pencdapatan perusahaan mencapai Rp 11,81 trillion. 

Di sisi lain, SMCB membukukan penurunan beban pokok pendapatan menjadi Rp 8,32 triliun atau turun 10,17% secara tahunan. Alhasil, EBITDA mencapai Rp1,87 triliun dan laba periode berjalan mencapai Rp 659 miliar atau susut 11,6% secara tahunan. 

Baca Juga: Solusi Bangun Indonesia (SMCB) Suplai Beton Siap Pakai ke Pabrik Lotte Cilegon

Rizki menyampaikan bahwa pada aspek operational excellence, perseroan mendorong efisiensi produksi melalui optimalisasi energi dan penggunaan bahan bakar alternatif. 

Di sisi pemasaran dan penjualan, fokus diarahkan pada penguatan merek serta perluasan saluran distribusi, terutama di wilayah dengan marjin tinggi. Strategi tersebut turut diperkuat melalui program efisiensi biaya guna memastikan pengendalian biaya yang lebih terukur sekaligus menekan beban keuangan.

Ia menjelaskan, implementasi program efisiensi secara disiplin berhasil menurunkan beban keuangan hingga 34,8% dibandingkan tahun sebelumnya. Selain itu, penguatan struktur permodalan dan percepatan pembayaran pinjaman dinilai mencerminkan ketahanan perseroan dalam menjaga kesehatan neraca dan likuiditas.

Lebih lanjut, Rizki menyebutkan bahwa sinergi bersama SIG membuat Solusi Bangun Indonesia optimistis dapat mempertahankan momentum pertumbuhan melalui berbagai inisiatif strategis dan inovasi. Salah satunya adalah proyek pengembangan dermaga dan fasilitas produksi untuk ekspor semen di Tuban, Jawa Timur, yang menjadi bagian dari kerja sama dengan Taiheiyo Cement Corporation.

Ia menambahkan, fasilitas dengan kapasitas ekspor 500 ribu hingga 1 juta ton semen tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada pertengahan 2026. “Selain mendorong ekspor, kerja sama dengan Taiheiyo juga mencakup pengembangan lini bisnis soil stabilization guna menjawab tantangan industri konstruksi sekaligus membuka peluang pasar baru.” pungkasny Rizki.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News