Soraya Berjaya (SPRE) Memacu Pemasaran untuk Mengerek Kinerja Tahun Ini



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten tekstil perlengkapan tidur PT Soraya Berjaya Indonesia Tbk (SPRE) mengoptimalkan pemasaran produk agar dapat meraih pertumbuhan kinerja tahun ini.

Direktur Utama Soraya Berjaya Indonesia, Rizet Ramawi mengungkapkan, salah satu bentuk upaya perusahaan ialah dengan menjalin kerja sama dengan agen penjual guna meningkatkan jangkauan pemasaran.

"Dari sisi segmentasi pasar, kami juga akan melakukan segmentasi bisnis dan produk untuk berbagai kalangan pelanggan yang berbeda," ujarnya dalam paparan publik, Jumat (26/6/2026).


Baca Juga: Ini Strategi Pelita Teknologi Global (CHIP) Dongkrak Kinerja

Dari aspek kanal distribusi, SPRE juga menggenjot pemasaran secara daring (online), khususnya melalui toko online (e-commerce), media sosial, dan situs web perusahaan.

Lebih lanjut, SPRE kata Rizet akan lebih intensif dalam berpartisipasi di berbagai pameran dan canvassing atau kegiatan penjajakan langsung dengan mengunjungi pelanggan potensial.

"Langkah ini diharapkan dapat memberikan berbagai manfaat bagi penjualan produk kami," tutur dia.

Sementara itu, perusahaan juga mengoptimalkan strategi pemasaran dengan skema business-to-business (B2B) dengan rumah sakit, hotel, hingga instansi pemerintah.

Tak hanya itu, perusahaan juga tengah menggenjot kapasitas produksi meskipun tak memerinci tambahan kapasitas yang dibidik tahun ini.

Rizet bilang, SPRE optimistis dapat meraih pertumbuhan kinerja tahun ini, baik dari top line maupun bottom line. Sayangnya, manajemen tidak mengungkap besaran targetnya.

Baca Juga: PGN (PGAS) Siap Laksanakan Penurunan Harga LNG untuk Industri Jadi US$ 13

Pada awal tahun ini, perusahaan membatalkan akuisisi atawa rencana pengambilalihan saham SPRE oleh Saiko Consultancy Pte. Ltd. 

Rizet menyebut, pembatalan rencana akuisisi yang awalnya ditujukan untuk menunjang pengembangan usaha tersebut tidak berdampak terhadap operasional usaha perusahaan.

"Tidak ada (dampak operasional), jadi kegiatan usaha tidak terganggu dengan pembatalan akuisisi atau aksi korporasi tersebut," ujar Rizet.

Asal tahu saja, perusahaan menjual produk sprei, bed cover, sarung bantal, bantal dan guling, matras portable, hingga handuk.

Menurutnya, hingga saat ini emiten dengan merek dagang Soraya, Unoku, dan Flete ini mampu bertahan karena adaptif terhadap perubahan tren, termasuk dalam memperbarui desain produk. 

Rizet menambahkan, pada kuartal I-2026 ini, perusahaan telah merealisasikan capital expenditure (capex) atau belanja modal senilai Rp 492 juta yang digunakan untuk inventaris kantor.

Sementara pada 2025, SPRE menganggarkan biaya Rp 753 juta yang digunakan untuk membeli kendaraan operasional, mesin untuk proses produksi, serta inventaris kantor.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News