KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas (Aspermigas) menyoroti rencana pemerintah untuk mempercepat pembangunan fasilitas penyimpanan minyak mentah (crude oil storage) berkapasitas hingga 90 hari. Aspermigas menyodorkan sejumlah catatan terkait proyek jumbo tersebut. Ketua Komite Investasi Aspermigas, Moshe Rizal mengatakan bahwa pembangunan storage minyak mentah ini merupakan proyek yang sangat besar dari sisi kapasitas maupun nilai investasi. Menurut Rizal, perlu terlebih dulu ada kejelasan dari berbagai aspek agar pembangunan dan pengoperasian storage jumbo ini bisa berjalan optimal. Apabila diposisikan sebagai cadangan energi strategis, Rizal menekankan bahwa penguasaan storage jumbo ini mesti ada di tangan negara. Oleh sebab itu, perlu ada kejelasan dari sisi besaran investasi, pihak mana saja yang akan menjadi investor, serta porsi kepemilikan dari storage tersebut.
"Kalau memang sebagai cadangan strategis, sudah selayaknya ini dikuasai oleh negara, bukan investor. Kalau investor, pasti nanti dibisniskan lagi. Jadi harus clear, tujuannya untuk apa? Siapa saja yang membiayai? Siapa yang menguasai storage ini?," kata Rizal saat dihubungi Kontan.co.id, Kamis (5/3/2026).
Baca Juga: Cadangan Energi Minim, Pemerintah Didorong Bangun Storage Baru Rizal menyarankan agar ada penguasaan negara secara langsung. Minimal, penguasaan itu terwakilkan melalui Danantara atau Pertamina sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor migas. "Malah kalau bisa bukan di bawah BUMN, tapi benar-benar langsung negara. Tapi kalau melalui Pertamina juga bisa yang investasi dan mengelolanya. Asalkan jangan sampai dikuasai oleh asing kalau bicara cadangan strategis," tegas Rizal. Sebagai cadangan strategis, idealnya storage tersebut sudah diisi oleh Bahan Bakar Minyak (BBM) yang siap pakai. Tetapi, Rizal memahami fasilitas penyimpanan BBM untuk kapasitas hingga 90 hari akan sangat kompleks karena harus mempertimbangkan jenis-jenis BBM yang akan disimpan serta faktor teknis seperti temperatur dan kelembapan. "Itu akan lebih riskan dan lebih mahal (investasi pembangunan storage untuk BBM). Minyak mentah bisa juga sebagai cadangan strategis, sehingga kita bisa menyiapkan stok lebih banyak dan disimpan lebih lama. Tapi, minyak mentah harus diproses lagi," ungkap Rizal.
Baca Juga: Bahlil: Impor Minyak Mentah dari AS Dimulai Bertahap, RI Siapkan Storage 90 Hari Di tengah eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah, Rizal mengingatkan agar pemerintah terlebih dulu memenuhi hal-hal prioritas pada aspek ketahanan energi. Sebab, Rizal memprediksi realisasi proyek jumbo ini akan memakan waktu lebih dari satu tahun. Dengan kapasitas cadangan hingga 90 hari, perlu proses panjang dari sisi pembangunan fisik maupun pengisian minyak mentah hingga kapasitas optimal. "Jadi storage sebesar itu membutuhkan waktu yang lama dari sisi pembangunan maupun pengisiannya. Mungkin butuh waktu tahunan," tandas Rizal. Mengutip pemberitaan Kontan.co.id sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan rencana pembangunan crude oil storage berkapasitas hingga 90 hari di wilayah Sumatra terus dipercepat. Pemerintah telah mengantongi calon investor untuk merealisasikan proyek strategis tersebut.
Baca Juga: Menakar Urgensi RI Bangun Storage Minyak 90 Hari di Sumatra Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan, rencana pembangunan storage tersebut telah dilaporkan kepada Presiden dan mendapat arahan agar segera direalisasikan. Pembangunan fasilitas penyimpanan minyak menjadi langkah penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional. “Saya sudah melaporkan kepada Bapak Presiden dan Bapak Presiden memberikan arahan agar segera bangun. Supaya apa? Ini kan kita butuh survival. Kalau kita bicara survival, kita harus mampu betul-betul melihat inti masalah dan segera menyelesaikannya. Kalau enggak kita tergantung terus,” ujar Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Rabu (4/3/2026). Bahlil menegaskan percepatan pembangunan storage menjadi satu-satunya langkah untuk meningkatkan kapasitas cadangan energi nasional. Dia memastikan investor untuk proyek tersebut sudah tersedia.
Pendanaan proyek ini akan berasal dari kombinasi investor dalam negeri dan luar negeri. Namun, Bahlil memastikan investasi tersebut tidak berasal dari Amerika Serikat. Bahlil juga membuka peluang keterlibatan pihak swasta dalam pembangunan fasilitas penyimpanan tersebut. “Ya investasinya sudah ada, investornya sudah ada. Sudah siap. Investasinya bisa blending antara dalam negeri dan dari luar. Tapi bukan dari AS,” ujar Bahlil.
Baca Juga: Soal Storage Tambahan, Pertamina Masih Tunggu Instruksi Pemerintah Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News