S&P Jaga Outlook RI, Maybank Targetkan IHSG di Level 7.500 Berikut Saham Pilihannya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lembaga pemeringkat internasional Standard & Poor's (S&P) mempertahankan peringkat kredit Indonesia beserta outlook stabil (stable). Keputusan ini dinilai menjadi sinyal positif bagi kredibilitas kebijakan ekonomi Indonesia, terutama setelah sebelumnya Moody's dan Fitch merevisi outlook Indonesia menjadi negatif.

Analis Maybank Sekuritas Indonesia Jeffrosenberg Chenlim mengatakan keputusan S&P tersebut membantu meredakan kekhawatiran investor terhadap kredibilitas kebijakan pemerintah, ekspansi fiskal, serta tata kelola ekonomi.

"Keputusan S&P ini merupakan sinyal positif bagi kredibilitas Indonesia. Penegasan outlook stabil membantu mengurangi kekhawatiran terkait kredibilitas kebijakan, ekspansi fiskal, dan tata kelola pemerintahan," kata Jeffrosenberg dalam riset Rabu (15/7/2026).


Baca Juga: IHSG Naik 0,37% ke 6.064 di Sesi I, Top Gainers LQ45: WIFI, HRTA, AMMN, Kamis (16/7)

Menurut Jeffrosenberg, keputusan tersebut berpotensi menurunkan premi risiko (country risk premium) Indonesia, memperkuat kepercayaan investor asing, serta menjadi katalis positif bagi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Sejalan dengan itu, Maybank Sekuritas Indonesia tetap mempertahankan pandangan positif terhadap pasar saham domestik dengan target IHSG pada akhir tahun di level 7.500, meski tetap mengedepankan sikap optimistis yang berhati-hati.

Dari sisi fundamental, S&P memperkirakan ekonomi Indonesia akan tumbuh 5,1% pada 2026 dan rata-rata 4,9% per tahun selama periode 2026-2029. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh kuatnya permintaan domestik, investasi, serta dukungan kebijakan pemerintah.

Selain itu, S&P memperkirakan defisit fiskal Indonesia tetap berada di bawah batas maksimal 3% terhadap produk domestik bruto (PDB). Proyeksi tersebut didukung oleh pemulihan penerimaan negara dan fleksibilitas pemerintah dalam menyesuaikan belanja apabila diperlukan.

Jeffrosenberg menilai disiplin fiskal dan rendahnya rasio utang pemerintah masih menjadi faktor utama yang menopang peringkat layak investasi (investment grade) Indonesia.

Meski demikian, S&P tetap mengingatkan adanya sejumlah risiko yang perlu diwaspadai. Tekanan terhadap peringkat kredit dapat muncul apabila pelemahan fiskal bersifat struktural, ditandai dengan defisit anggaran yang terus melebar, penerimaan negara yang melemah, peningkatan utang pemerintah, maupun beban pembayaran utang yang semakin besar.

Risiko juga dapat meningkat apabila posisi eksternal Indonesia terus melemah, seperti defisit transaksi berjalan yang semakin lebar, pelemahan rupiah yang berkepanjangan, meningkatnya ketergantungan pada pembiayaan luar negeri, atau berkurangnya aliran devisa.

"Outlook stabil juga bergantung pada konsistensi pelaksanaan kebijakan dan keberhasilan reformasi untuk meningkatkan penerimaan negara. Jika kebijakan menjadi kurang dapat diprediksi atau reformasi tersebut tidak mampu memperkuat kondisi fiskal, maka risiko perubahan outlook menjadi negatif atau bahkan penurunan peringkat akan meningkat," ujar Jeffrosenberg.

Di sisi lain, Maybank menilai pelemahan kondisi ekonomi saat ini masih bersifat siklikal, bukan struktural. Penilaian tersebut sejalan dengan pandangan S&P sehingga memperkuat prospek positif terhadap pasar saham Indonesia dalam jangka panjang.

Baca Juga: Rupiah Perkasa di Asia, Menguat ke Rp 18.027 Per Dolar AS di Tengah Hari Ini (16/7)

Jeffrosenberg mengatakan valuasi banyak saham di IHSG saat ini diperdagangkan di bawah kisaran minus 1,5 standar deviasi, sehingga menciptakan peluang investasi yang menarik bagi investor jangka panjang.

"Kami melihat kondisi ini sebagai titik masuk yang menarik dengan pendekatan ala Warren Buffett, yaitu berinvestasi pada perusahaan berkualitas tinggi yang memiliki keunggulan kompetitif berkelanjutan, manajemen yang kuat, laba yang tangguh, neraca yang sehat, serta mampu bertahan dalam berbagai siklus ekonomi," katanya.

Adapun saham-saham yang menjadi pilihan utama Maybank Sekuritas Indonesia untuk investasi jangka panjang antara lain Kalbe Farma (KLBF), Mitra Keluarga Karyasehat (MIKA), Bank Central Asia (BBCA), Indocement Tunggal Prakarsa (INTP), dan Astra Otoparts (AUTO)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News