S&P Pertahankan Rating Indonesia, Pemulihan IHSG Masih Bergantung Dana Asing



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Keputusan S&P Global Ratings mempertahankan peringkat utang (sovereign rating) Indonesia di level BBB dengan outlook Stable menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan.

Meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung menguat dan bertahan di atas level psikologis 6.000, sejumlah analis menilai pemulihan pasar saham masih belum kokoh karena belum diikuti stabilisasi rupiah dan kembalinya arus dana asing.

Riset PT Henan Putihrai Sekuritas dan PT Henan Putihrai Asset Management menyebut respons pasar terhadap keputusan S&P merupakan sinyal positif paling jelas sejak awal tahun.


Baca Juga: S&P Pertahankan Rating BBB Indonesia, Rupiah dan Obligasi Berpeluang Menguat

Namun, penguatan tersebut dinilai belum menandakan tekanan struktural di pasar modal telah berakhir.

Analis mengingatkan masih ada sejumlah agenda penting yang berpotensi memengaruhi arah pasar hingga akhir tahun.

Di antaranya masa probasi Indonesia oleh MSCI yang berlangsung hingga November, status watchlist dari S&P Dow Jones Indices (S&P DJI), serta FTSE Annual Review pada Oktober mendatang.

Menurut riset tersebut, investor perlu memahami perbedaan penilaian antara lembaga pemeringkat kredit dan penyedia indeks global.

S&P Global Ratings menilai kemampuan pemerintah dalam mengelola kondisi fiskal dan moneter, termasuk kapasitas memenuhi kewajiban utangnya.

Sementara itu, MSCI, FTSE Russell, dan S&P DJI lebih menitikberatkan penilaian pada aksesibilitas pasar modal Indonesia bagi investor global.

Baca Juga: S&P Masih Soroti Kesehatan Fiskal Indonesia Meski Rating BBB Bertahan

Karena itu, keputusan positif dari S&P belum otomatis diikuti peningkatan aliran modal asing ke pasar saham.

Hal itu terlihat dari pergerakan pasar setelah pengumuman S&P. Meski IHSG menguat, nilai tukar rupiah masih bertahan di kisaran Rp 18.131 per dolar Amerika Serikat, menandakan investor asing belum kembali secara signifikan.

Riset tersebut menilai pemulihan pasar yang sehat umumnya diawali dengan stabilitas nilai tukar rupiah, kemudian didukung kebijakan suku bunga Bank Indonesia yang kondusif sehingga mampu menarik kembali dana asing.

"Selama rupiah belum stabil dan arus asing belum benar-benar kembali, penguatan ini masih rentan kehilangan momentum," tulis riset tersebut.

Pandangan itu juga sejalan dengan catatan S&P Global Ratings yang menilai perubahan kebijakan dan ketidakpastian implementasinya masih dapat memengaruhi kepercayaan investor, sekaligus memberi tekanan terhadap nilai tukar dan pasar keuangan.

Meski demikian, S&P menegaskan Indonesia tidak berada dalam kondisi krisis kredit. Lembaga tersebut menilai pemerintah masih memiliki kemampuan dan kemauan untuk memenuhi seluruh kewajiban keuangannya.

Namun, status tersebut tetap harus dijaga melalui pengelolaan fiskal dan ekonomi yang konsisten. Selain itu, hasil evaluasi dari penyedia indeks global dalam beberapa bulan ke depan juga dinilai akan menentukan seberapa cepat pemulihan pasar modal berlangsung.

Baca Juga: Pasca Rating S&P Stabil, Purbaya Optimistis Arus Modal Masuk dan Rupiah Menguat

Berdasarkan perhitungan Henan Putihrai, pasar saham Indonesia masih membutuhkan kenaikan sekitar 19,7% dari posisi saat ini agar dapat dikatakan memasuki fase pemulihan yang lebih kuat.

Sejumlah agenda yang diperkirakan menjadi penentu arah pasar hingga akhir tahun antara lain Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada akhir Juli, FTSE Annual Review pada Oktober, serta hasil evaluasi MSCI pada November.

Dalam laporannya, S&P Global Ratings mengakui Indonesia tengah menghadapi tekanan yang tidak ringan.

Lembaga itu mencatat kondisi fiskal masih tertekan, nilai tukar rupiah melemah, biaya bunga utang berada di atas ambang yang dianggap nyaman, serta kapitalisasi pasar keuangan telah menyusut lebih dari 30% sepanjang semester I-2026.

Meski demikian, S&P tetap mempertahankan peringkat Indonesia karena menilai tekanan tersebut bersifat sementara dan fundamental ekonomi nasional masih relatif kuat.

Baca Juga: IHSG Naik 0,47% ke 6.067 di Sesi I, Top Gainers LQ45: ANTM, ESSA, ISAT, Rabu (15/7)

Penilaian itu didukung pertumbuhan ekonomi riil sebesar 5,6% pada kuartal I-2026, kenaikan penerimaan negara sebesar 21% pada semester I-2026, serta komitmen pemerintah menjaga defisit anggaran tetap di bawah 3% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Ke depan, S&P juga memperkirakan kenaikan harga komoditas dan langkah efisiensi belanja pemerintah dapat memperbaiki kondisi fiskal Indonesia dan mendukung stabilitas ekonomi secara bertahap.

Sumber: https://money.kompas.com/read/2026/07/15/135118126/sp-pertahankan-rating-indonesia-ihsg-menguat-tapi-risiko-belum-hilang?page=all#page2. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News