S&P: Pulihkan Kepercayaan Investor Jadi Kunci Jaga Rating Utang Indonesia



KONTAN.CO.ID - S&P Global Ratings menilai, pemulihan kepercayaan investor menjadi kunci untuk menjaga dukungan terhadap profil kredit pemerintah Indonesia, menyusul peringatan dari MSCI pada Januari lalu yang sempat mengguncang pasar saham domestik.

Dalam laporan terbarunya, S&P menyebut dampak langsung terhadap metrik kredit sovereign Indonesia saat ini masih terbatas.

Baca Juga: Indonesia-AS Teken Kesepakatan Perdagangan dan Investasi Senilai US$ 7 Miliar


Lembaga pemeringkat itu mencatat otoritas Indonesia tengah berupaya membenahi struktur pasar yang selama ini memengaruhi arus portofolio asing.

"Kerusakan terhadap kepercayaan investor dapat dipulihkan. Namun kegagalan untuk melakukannya akan memberikan pukulan yang lebih serius terhadap sentimen dibandingkan sekadar perubahan klasifikasi oleh MSCI," tulis analis S&P dalam laporannya, Kamis (19/2).

S&P menegaskan bahwa peringkat utang Indonesia sensitif terhadap kinerja fiskal dan stabilitas eksternal.

Menurut mereka, jika volatilitas pasar saham memicu pelemahan lebih lanjut pada indikator-indikator tersebut, maka peluang terjadinya aksi rating negatif akan meningkat.

Seperti diketahui, MSCI pada Januari menyoroti persoalan transparansi yang memicu aksi jual besar-besaran di pasar saham Indonesia.

Baca Juga: Konglomerat Wexner Akui Pernah Kunjungi Pulau Epstein, Bantah Tahu Kejahatan Seksual

Pemerintah pun merespons dengan mengumumkan sejumlah proposal reformasi menyeluruh untuk memperbaiki tata kelola dan meningkatkan kredibilitas pasar.

Sebelumnya, Moody's juga menurunkan outlook Indonesia menjadi negatif dari sebelumnya stabil pada awal Februari.

Lembaga tersebut menilai terdapat penurunan prediktabilitas kebijakan, yang menjadi tantangan tambahan bagi ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan anggota G20 dengan nilai produk domestik bruto sekitar US$ 1,4 triliun.

Selanjutnya: Indonesia dan AS Teken Kerjasama di Sektor Energi Hingga Tekstil US$ 38,4 Miliar

Menarik Dibaca: Kerja Fleksibel Bukan Sekadar Tren, Ini Dampaknya bagi Pekerja