KONTAN.CO.ID - SpaceX mengakuisisi perusahaan rintisan kecerdasan buatan xAI dalam sebuah transaksi bernilai rekor, menandai langkah besar Elon Musk untuk menyatukan ambisi di bidang AI dan antariksa. Akuisisi ini menggabungkan perusahaan roket dan satelit milik Musk dengan pengembang chatbot Grok, dalam salah satu kolaborasi paling ambisius di sektor teknologi sejauh ini. Kesepakatan tersebut, yang pertama kali dilaporkan Reuters pekan lalu, mengombinasikan kontraktor antariksa dan pertahanan dengan pengembang AI yang berkembang pesat, namun memiliki struktur biaya tinggi yang ditopang oleh kebutuhan chip, pusat data, dan energi.
Baca Juga: Google Cloud dan Liberty Global Jalin Kemitraan AI Lima Tahun di Eropa Langkah ini juga berpotensi memperkuat ambisi SpaceX di bisnis pusat data, di tengah persaingan ketat dengan raksasa AI seperti Google (Alphabet), Meta, Anthropic yang didukung Amazon, serta OpenAI. Menurut sumber yang mengetahui transaksi tersebut, SpaceX dinilai sebesar US$1 triliun, sementara xAI dihargai US$250 miliar. “Ini bukan sekadar bab berikutnya, melainkan buku berikutnya dalam misi SpaceX dan xAI: berkembang untuk menciptakan matahari berkesadaran guna memahami alam semesta dan memperluas cahaya kesadaran hingga ke bintang-bintang,” ujar Musk. Akuisisi xAI ini menjadi transaksi merger dan akuisisi (M&A) terbesar dalam sejarah dunia, melampaui rekor yang bertahan lebih dari 25 tahun sejak Vodafone mengakuisisi Mannesmann dari Jerman senilai US$203 miliar pada 2000, berdasarkan data LSEG.
Baca Juga: Bursa Australia Menguat Dipimpin Bank & Tambang Selasa (3/2), Menanti Keputusan RBA Sumber lain menyebutkan, entitas gabungan SpaceX dan xAI diperkirakan akan menetapkan harga saham sekitar US$527 per lembar. SpaceX sebelumnya telah menjadi perusahaan swasta paling bernilai di dunia, dengan valuasi terakhir mencapai US$800 miliar dalam transaksi penjualan saham internal. Sementara itu, xAI terakhir dinilai US$230 miliar pada November, menurut Wall Street Journal. Merger ini terjadi di tengah rencana SpaceX untuk melakukan penawaran umum perdana (IPO) besar-besaran tahun ini, yang diperkirakan dapat mendorong valuasi perusahaan melampaui US$1,5 triliun, menurut dua sumber yang mengetahui rencana tersebut. Hingga berita ini diturunkan, SpaceX, xAI, dan Elon Musk belum memberikan tanggapan resmi atas permintaan komentar.
Baca Juga: Harga Bitcoin Diprediksi Anjlok ke US$ 10.000, Ini Biang Keroknya Kesepakatan ini semakin mengonsolidasikan kerajaan bisnis Musk ke dalam satu ekosistem yang saling menguatkan—yang oleh sebagian investor dan analis dijuluki sebagai “Muskonomy” yang mencakup Tesla, perusahaan implan otak Neuralink, serta perusahaan infrastruktur The Boring Company. Musk dikenal memiliki rekam jejak menggabungkan berbagai usahanya. Tahun lalu, ia mengintegrasikan platform media sosial X ke dalam xAI melalui pertukaran saham, sehingga startup AI tersebut memperoleh akses ke data dan distribusi platform tersebut. Pada 2016, Musk juga menggunakan saham Tesla untuk mengakuisisi perusahaan energi surya miliknya, SolarCity. Namun, transaksi ini berpotensi menarik pengawasan regulator dan investor, terutama terkait tata kelola, valuasi, dan konflik kepentingan, mengingat peran kepemimpinan Musk yang tumpang tindih di berbagai perusahaan, serta potensi perpindahan insinyur, teknologi proprietary, dan kontrak antar-entitas.
Baca Juga: Pemegang Emas Swasta Terbesar Dunia Kini Jadi Pembeli Besar Utang AS Selain itu, SpaceX memiliki kontrak federal bernilai miliaran dolar AS dengan NASA, Departemen Pertahanan AS, serta lembaga intelijen, yang memiliki kewenangan untuk meninjau transaksi M&A terkait keamanan nasional dan risiko lainnya.