KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Elon Musk membuka peluang penggabungan dua perusahaan yang dipimpinnya, SpaceX dan Tesla. Musk menyebut merger kedua perusahaan tersebut sebagai ide yang baik. Keduanya bahkan telah membentuk komite khusus untuk membahas kemungkinan penggabungan bisnis. Jika terealisasi, merger SpaceX dan Tesla berpotensi melahirkan salah satu perusahaan publik terbesar di Amerika Serikat (AS). Namun, rencana tersebut juga menghadirkan sejumlah tantangan, mulai dari perbedaan kinerja keuangan hingga kebutuhan pendanaan untuk membiayai ekspansi. Tesla merupakan produsen mobil listrik yang tengah mengembangkan bisnis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan robotika. Perusahaan ini memiliki bisnis yang relatif lebih stabil, tetapi menghadapi kenaikan biaya serta kebutuhan investasi besar untuk membuktikan potensi bisnis robotaxi dan robot humanoid.
Baca Juga: The Fed Diperkirakan Tahan Suku Bunga, Namun Peluang Kenaikan Masih Terbuka Sementara itu, SpaceX mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang lebih cepat, ditopang bisnis internet satelit Starlink dan AI. Meski demikian, ekspansi agresif, terutama pada infrastruktur AI, membuat perusahaan tersebut membutuhkan pendanaan besar. Berikut perbandingan kinerja keuangan Tesla dan SpaceX berdasarkan data hingga sembilan bulan pertama 2026.
Kapitalisasi pasar SpaceX lebih besar dari Tesla
Saham Tesla naik 3,4% pada Rabu dan ditutup pada US$ 386,47 per saham. Kenaikan tersebut membawa kapitalisasi pasar Tesla menjadi sekitar US$ 1,53 triliun, setelah Musk menyatakan bahwa penggabungan Tesla dan SpaceX merupakan ide yang baik. Sementara itu, SpaceX melantai di bursa pada Juni 2026 dengan harga penawaran perdana US$ 135 per saham. Perusahaan tersebut menghimpun dana sekitar US$ 86 miliar melalui penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO), yang menjadi IPO terbesar sepanjang sejarah. Saham SpaceX kemudian melonjak 7,8% pada Rabu menjadi US$ 159,31 per saham. Kenaikan tersebut didorong oleh pernyataan Musk mengenai kemungkinan merger dan pencapaian laba pertama perusahaan sebagai entitas publik. Dengan pergerakan tersebut, kapitalisasi pasar SpaceX mencapai sekitar US$ 2,16 triliun. Nilai tersebut jauh melampaui kapitalisasi pasar Tesla. Jika kedua perusahaan digabungkan, nilai pasar gabungannya berpotensi mencapai sekitar US$ 3,69 triliun, berdasarkan kapitalisasi pasar masing-masing perusahaan tersebut.
Pendapatan SpaceX tumbuh lebih cepat
Dari sisi pendapatan, Tesla masih mencatatkan nilai yang lebih besar. Namun, pertumbuhan bisnis SpaceX berlangsung lebih cepat. Tesla membukukan pendapatan US$ 78,67 miliar selama sembilan bulan pertama 2026, meningkat dari US$ 69,93 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh pemulihan penjualan kendaraan listrik di tengah tingginya harga bensin. Selain itu, pendapatan dari langganan perangkat lunak Full Self-Driving (FSD) juga meningkat. Di sisi lain, pendapatan SpaceX hampir dua kali lipat menjadi US$ 27,08 miliar selama sembilan bulan pertama 2026, dibandingkan US$ 13,7 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut terutama berasal dari ekspansi bisnis Starlink dan AI. Kedua segmen ini menjadi pendorong utama pertumbuhan SpaceX di luar bisnis peluncuran roket konvensional.
Baca Juga: Houthi Serang Jalur Pipa Minyak Arab Saudi dan Bandara Riyadh, Konflik Meluas Valuasi saham Tesla dan SpaceX
Investor bersedia membayar sekitar US$ 12,50 untuk setiap US$ 1 pendapatan Tesla yang diperkirakan dihasilkan selama 12 bulan ke depan. Sementara itu, valuasi SpaceX mencapai sekitar US$ 14,50 untuk setiap US$ 1 pendapatan yang diproyeksikan pada periode yang sama. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa pasar memberikan valuasi lebih tinggi kepada SpaceX dibandingkan Tesla berdasarkan estimasi pendapatan ke depan. Valuasi tersebut mencerminkan ekspektasi investor terhadap potensi pertumbuhan bisnis SpaceX, khususnya di sektor AI dan internet satelit. Namun, valuasi yang lebih tinggi juga perlu dilihat bersama kebutuhan belanja modal dan kemampuan perusahaan menghasilkan arus kas.
Tesla mencetak laba, SpaceX mulai membukukan keuntungan
Tesla mencatatkan laba sebesar US$ 4,3 miliar selama sembilan bulan pertama 2026. Kinerja tersebut didukung pemulihan penjualan kendaraan listrik, pertumbuhan pendapatan langganan FSD dengan margin tinggi, serta bisnis pengisian daya kendaraan listrik dan asuransi. Sebaliknya, SpaceX masih membukukan rugi US$ 413 juta selama periode yang sama karena pengeluaran besar untuk membangun infrastruktur AI. Meski demikian, kerugian SpaceX menyusut dibandingkan sembilan bulan pertama 2025. Perbaikan tersebut didukung oleh bisnis pusat data baru yang memiliki margin keuntungan tinggi. Pada kuartal III-2026, SpaceX bahkan berhasil berbalik mencetak laba sebesar US$ 4,4 miliar. Pencapaian itu menjadi laba pertama perusahaan sejak melantai di bursa.
Perbandingan utang kedua perusahaan
Per 30 September 2026, Tesla memiliki utang sebesar US$ 9,5 miliar. Sekitar US$ 6 miliar di antaranya merupakan pinjaman di China untuk membiayai operasional sehari-hari. Tesla juga telah menyiapkan fasilitas kredit baru senilai US$ 30 miliar. Namun, perusahaan belum menggunakan fasilitas tersebut dan menyatakan tidak berencana memakainya pada 2026. Adapun utang SpaceX mencapai US$ 38,8 miliar pada akhir September 2026. Sebesar US$ 25 miliar di antaranya berasal dari surat utang senior tanpa jaminan yang diterbitkan pada Juni, dengan jatuh tempo antara 2031 dan 2056. Pada Minggu, Musk juga menyatakan SpaceX telah menuntaskan pendanaan utang sebesar US$ 40 miliar untuk membeli unit pemrosesan grafis atau graphics processing units (GPU). Perbedaan struktur keuangan tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam menilai potensi penggabungan kedua perusahaan, terutama terkait kebutuhan pendanaan dan risiko utang.
Baca Juga: Arab Saudi, Pakistan, dan Turki Temui Iran, Upaya Redam Konflik Timur Tengah Belanja modal SpaceX jauh lebih besar
Kebutuhan investasi menjadi salah satu perbedaan utama antara Tesla dan SpaceX. Tesla memangkas proyeksi belanja modal 2026 menjadi sekitar US$ 20 miliar, dari perkiraan sebelumnya yang lebih dari US$ 25 miliar. Selama sembilan bulan pertama 2026, belanja modal Tesla tercatat sebesar US$ 13,01 miliar. Angka tersebut mencakup US$ 4,7 miliar pada kuartal III-2026, jauh di bawah ekspektasi analis sebesar US$ 7,5 miliar. Sebaliknya, SpaceX menghabiskan US$ 48,1 miliar untuk belanja modal selama sembilan bulan pertama 2026. Dari jumlah tersebut, US$ 19,6 miliar dibelanjakan pada kuartal III-2026. Pengeluaran SpaceX terutama dialokasikan untuk komputasi AI, pembangunan infrastruktur Starship, dan produksi satelit. Perusahaan memperkirakan belanja modal akan meningkat lebih lanjut menjadi US$ 35 miliar hingga US$ 40 miliar pada kuartal IV-2026. Besarnya investasi tersebut mencerminkan ambisi SpaceX untuk memperluas kapasitas komputasi AI sekaligus meningkatkan skala bisnis antariksa dan satelitnya.
Arus kas bebas Tesla positif, SpaceX masih membakar kas
Perbedaan belanja modal turut memengaruhi kemampuan kedua perusahaan menghasilkan arus kas bebas atau free cash flow (FCF). Tesla menghasilkan kas US$ 1,88 miliar lebih banyak daripada yang dibelanjakan selama sembilan bulan pertama 2026. Kinerja tersebut terbantu oleh belanja modal yang lebih rendah dari perkiraan. Pada akhir September, Tesla memiliki kas dan investasi sebesar US$ 45,4 miliar, meningkat sekitar US$ 1,4 miliar dibandingkan awal 2026. Tesla juga menginvestasikan US$ 2 miliar pada saham SpaceX selama sembilan bulan pertama tahun ini. Investasi tersebut menjadi salah satu penghubung keuangan antara kedua perusahaan sebelum pembahasan merger. Sebaliknya, SpaceX masih mengeluarkan kas jauh lebih besar daripada kas yang dihasilkannya. Perusahaan mencatat arus kas keluar bersih sebesar US$ 34,97 miliar selama sembilan bulan pertama 2026. Analis memperkirakan arus kas bebas SpaceX masih akan negatif pada kuartal IV-2026. Menurut para analis, penggabungan dengan Tesla berpotensi mengurangi tekanan terhadap arus kas SpaceX melalui pemanfaatan layanan bersama dan kemampuan kedua perusahaan untuk melakukan pembiayaan utang secara bersama.
Baca Juga: Harga Emas Naik Seiring Pelemahan Harga Minyak, Pasar Cermati Keputusan The Fed SpaceX mengakhiri September dengan kas sebesar US$ 51,3 miliar. Posisi tersebut didukung oleh dana yang diperoleh melalui IPO pada Juni 2026, yang menghasilkan sekitar US$ 85,7 miliar. Meski memiliki cadangan kas besar, tingginya kebutuhan belanja modal tetap menjadi tantangan bagi SpaceX dalam menjaga keberlanjutan ekspansinya.
Valuasi dan kendali Elon Musk menjadi tantangan merger
Hingga kini, belum ada kesepakatan final mengenai penggabungan Tesla dan SpaceX. Namun, jika terealisasi, transaksi tersebut berpotensi melampaui merger-merger terbesar dalam satu dekade terakhir berdasarkan gabungan nilai pasar kedua perusahaan. Salah satu persoalan utama yang perlu diselesaikan adalah penentuan valuasi masing-masing perusahaan. Pemegang saham Tesla harus mempertimbangkan pertukaran kepemilikan mereka di perusahaan independen dengan saham perusahaan gabungan yang struktur kendalinya berpotensi berbeda. Musk memiliki sekitar 20% hak suara di Tesla. Sementara itu, SpaceX berada di bawah kendalinya. Sejumlah analis menilai merger tersebut dapat memberikan Musk kendali atas entitas gabungan. Kondisi ini berpotensi memunculkan pertanyaan dari pemegang saham Tesla mengenai nilai pertukaran saham, tata kelola perusahaan, dan pembagian hak suara.