KONTAN.CO.ID - Rencana penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) perusahaan antariksa milik Elon Musk, SpaceX, semakin menunjukkan titik terang. Perusahaan produsen roket dan satelit tersebut dilaporkan lebih condong untuk mencatatkan sahamnya di bursa Nasdaq. Langkah ini diprediksi bakal menjadi aksi IPO terbesar sepanjang sejarah pasar modal global.
Baca Juga: CEO West Pharmaceutical Eric Green Umumkan Pensiun, Ini Rencana Transisinya Melansir laporan
Reuters, SpaceX tengah mempertimbangkan Nasdaq sebagai pelabuhan utama untuk melantai di bursa. Namun, manajemen SpaceX memberikan syarat khusus berupa percepatan masuk ke dalam indeks bergengsi Nasdaq 100. Indeks ini merupakan barometer kesehatan perusahaan teknologi raksasa dunia seperti Nvidia, Apple, hingga Amazon.
Ambisi Valuasi dan Aturan Main Baru
Kabar yang beredar menyebutkan bahwa SpaceX membidik valuasi fantastis mencapai US$ 1,75 triliun dalam aksi korporasi ini. Jika dikonversi dengan kurs Rp 16.864 per US$, maka nilai valuasi tersebut setara dengan Rp 29.512 triliun. Angka ini akan langsung menduduki posisi sebagai perusahaan terbesar keenam di Amerika Serikat berdasarkan kapitalisasi pasar. Untuk memuluskan langkah perusahaan raksasa seperti SpaceX, Nasdaq telah mengusulkan perubahan aturan baru yang disebut Fast Entry. Aturan ini dirancang untuk menarik perusahaan private bervaluasi tinggi agar bersedia melantai di bursa mereka. Beberapa poin penting terkait rencana masuknya SpaceX ke bursa saham antara lain:
- Target IPO diperkirakan bakal terlaksana paling cepat pada Juni 2026.
- SpaceX menginginkan inklusi awal dalam indeks Nasdaq 100 sebagai syarat pencatatan saham.
- Bursa Efek New York (NYSE) juga dilaporkan tengah bersaing ketat untuk mendapatkan jatah listing SpaceX.
- Valuasi target sebesar US$ 1,75 triliun atau Rp 29.512 triliun akan menempatkan SpaceX sejajar dengan jajaran elit megacap di Wall Street.
Dikutip
Reuters, aturan percepatan masuk indeks ini memungkinkan perusahaan baru untuk bergabung dengan Nasdaq 100 dalam waktu kurang dari satu bulan. Syaratnya, kapitalisasi pasar perusahaan tersebut harus masuk dalam peringkat 40 besar dari anggota indeks yang ada saat ini. Secara umum, perusahaan yang baru melantai di bursa biasanya harus menunggu waktu hingga satu tahun sebelum bisa masuk ke indeks utama seperti S&P 500 atau Nasdaq 100. Masa tunggu ini bertujuan agar perusahaan dapat membuktikan stabilitas kinerjanya kepada para investor institusi.
Tonton: Asia Tenggara Terancam Gelombang Panas Ekstrem! Indonesia Bisa Kena Dampak Besar Proyeksi Pasar IPO 2026
Tahun 2026 diprediksi akan menjadi periode yang sangat sibuk bagi pasar perdana di Amerika Serikat. Selain SpaceX, beberapa perusahaan teknologi rintisan yang didukung modal ventura seperti OpenAI dan Anthropic juga dikabarkan tengah mempersiapkan landasan untuk melakukan debut di pasar saham.
Kehadiran SpaceX di lantai bursa sangat dinantikan oleh pelaku pasar global. Sebagai informasi, performa indeks Nasdaq 100 tercatat tumbuh sekitar 21% sepanjang tahun lalu, meskipun mengalami sedikit koreksi pada awal tahun ini. Hingga saat ini, pihak SpaceX belum memberikan komentar resmi terkait detail rencana IPO tersebut. Langkah Elon Musk dalam membawa perusahaan menuju publik selalu menjadi katalis besar bagi pergerakan sektor industri terkait. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News