KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Perusahaan antariksa SpaceX milik Elon Musk bersiap melakukan penawaran saham perdana (IPO) dengan target valuasi mencapai US$1,75 triliun. Jika tercapai, angka ini akan menempatkan SpaceX sebagai perusahaan publik keenam terbesar di Amerika Serikat, melampaui raksasa seperti Meta Platforms dan Berkshire Hathaway. IPO ini diperkirakan bisa menghimpun dana hingga US$75 miliar atau lebih, sebuah rekor baru. Antusiasme investor sangat tinggi, bahkan banyak yang rela berinvestasi melalui pasar sekunder yang kurang transparan hanya untuk memiliki saham SpaceX.
Keunggulan SpaceX
Valuasi SpaceX didorong oleh Starlink, jaringan satelit internet yang kini memiliki lebih dari 10 juta pelanggan, serta bisnis peluncuran roket yang dianggap mengubah akses ke orbit. Falcon 9, roket SpaceX yang pada Desember 2015 menjadi roket besar pertama yang berhasil melakukan pemulihan terkendali, mencatat 165 peluncuran pada 2025, rekor baru dalam satu tahun.
Selain itu, ambisi baru seperti Starship, startup AI xAI, dan proyek satelit pusat data menambah nilai potensial perusahaan. Investor percaya bahwa Musk mampu mewujudkan proyek-proyek besar ini berkat rekam jejaknya dalam membangun perusahaan disruptif.
Baca Juga: Pipa Minyak Arab Saudi yang Melewati Selat Hormuz Rusak Akibat Serangan Iran "Ini adalah kumpulan bisnis raksasa yang terbukti. Starlink dan peluncuran roket sudah terbukti, xAI memberi opsi untuk masa depan," ujar Daniel Hanson, manajer portofolio di Neuberger’s Quality Equity Fund, yang telah menanamkan hampir 10% asetnya di SpaceX.
Dominasi SpaceX di Pasar Antariksa
SpaceX memimpin dalam peluncuran satelit orbit rendah untuk layanan Starlink. Starlink sendiri menyumbang 50%-80% pendapatan SpaceX. Namun, beberapa proyek besar lainnya, seperti Starship untuk misi ke Bulan dan Mars, serta satu juta satelit pusat data, masih dalam tahap pengembangan. "Investor harus memantau waktu peluncuran Starship dan ekspansi Starlink ke ponsel," kata analis PitchBook, Franco Granda. SpaceX meluncurkan roket hampir setiap dua hari, lebih cepat daripada program antariksa atau perusahaan mana pun, memberikan kapasitas unggul di pasar yang menjadi hambatan bagi pesaing seperti Amazon.
Valuasi dan Rasio Keuangan
SpaceX mencatat US$8 miliar laba dengan pendapatan US$15-US$16 miliar pada 2025. Dengan asumsi pendapatan dan arus kas dua kali lipat pada 2026, valuasi US$1,75 triliun menempatkan perusahaan pada price-to-revenue 56 dan price-to-EBITDA 109, angka luar biasa tinggi dibanding perusahaan lain. Sebagai perbandingan, Tesla memiliki rasio 12 kali revenue dan 79 kali EBITDA.
Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Asia Selatan Melambat Jadi 6,3% Akibat Konflik Timur Tengah Menurut Shay Boloor, kepala strategi pasar di Futurum Equities, “Starlink adalah satu-satunya alasan valuasi ini bisa dibenarkan. Basis pelanggannya tumbuh dengan sangat cepat.”
Tantangan Valuasi Perusahaan Privat
Dalam merger SpaceX dengan xAI pada Februari, SpaceX bernilai US$1 triliun dan Grok, pengembang chatbot, bernilai US$250 miliar. Saat ini, SpaceX diperdagangkan di pasar sekunder Nasdaq Private Market dengan valuasi US$1,54 triliun, menunjukkan permintaan jauh melebihi pasokan. "SpaceX selalu menjadi salah satu nama paling aktif di platform kami karena tidak ada yang sebanding di pasar privat," kata Greg Martin, pendiri Rainmaker Securities. Dengan kombinasi bisnis yang sudah terbukti, proyek ambisius, dan rekam jejak Elon Musk, SpaceX siap menorehkan sejarah baru di pasar saham global.