KONTAN.CO.ID – WASHINGTON. SpaceX kembali mencatatkan tonggak penting dalam pengembangan roket Starship. Pada Jumat (24/7/2026), perusahaan antariksa milik Elon Musk itu berhasil meluncurkan Starship dalam misi uji coba ke-13 sekaligus untuk pertama kalinya melepaskan 20 satelit Starlink generasi terbaru ke lintasan suborbital. Pencapaian ini menjadi salah satu target utama dalam rangkaian pengujian Starship, yang dipersiapkan untuk memasuki layanan operasional rutin sebelum akhir 2026. Sistem roket Starship setinggi sekitar 122 meter itu lepas landas dari fasilitas Starbase milik SpaceX di Texas sekitar pukul 18.50 waktu setempat.
Booster tahap pertama Super Heavy mengantarkan wahana Starship menuju lintasan suborbital, sementara keseluruhan misi diperkirakan berlangsung sekitar satu jam sebelum Starship kembali memasuki atmosfer Bumi dan mendarat di Samudra Hindia.
Booster Super Heavy Kembali ke Bumi Lebih Keras dari Perkiraan
Sekitar 10 menit setelah peluncuran, ketika Starship melaju dengan kecepatan sekitar 26.400 kilometer per jam di luar angkasa, booster Super Heavy mulai kembali ke Bumi.
Baca Juga: Pengadilan Banding AS Tolak Upaya Trump Kenakan Biaya Visa H-1B US$100.000 SpaceX menyatakan tahap pertama roket tersebut menghantam Teluk Meksiko dengan lebih keras dibandingkan perkiraan. Meski demikian, perusahaan menilai hasil tersebut tetap menunjukkan kemajuan karena lebih banyak mesin berhasil dinyalakan kembali dibandingkan uji terbang sebelumnya pada Mei lalu yang mengalami kegagalan saat proses pendaratan. Misi kali ini merupakan penerbangan uji Starship ke-13 sejak program tersebut dimulai pada 2023. SpaceX menggunakan versi terbaru Starship yang menjadi komponen penting dalam ambisi perusahaan untuk memperluas jaringan Starlink, mendukung program pendaratan manusia di Bulan bersama NASA, hingga mengoperasikan ribuan satelit pemrosesan kecerdasan buatan (AI) di orbit.
Untuk Pertama Kalinya Starship Lepaskan Satelit Starlink V3
Sekitar 20 menit setelah memasuki luar angkasa, Starship mulai melepaskan 20 satelit Starlink V3 satu per satu menggunakan sistem pelepasan muatan yang menyerupai dispenser permen "Pez". Siaran langsung SpaceX memperlihatkan pemandangan Bumi yang gelap dari ketinggian sekitar 190 kilometer. Kilatan petir dari badai yang terjadi di bawah wahana juga tampak jelas melalui kamera yang dipasang pada Starship. Para insinyur SpaceX di fasilitas Hawthorne, California, terdengar bersorak menyambut setiap pencapaian penting selama misi berlangsung. Pada salah satu momen, mereka bahkan meneriakkan "USA" sebagai bentuk perayaan. Selama berada di luar angkasa, satelit Starlink V3 yang memiliki kapasitas bandwidth lebih besar akan membuka panel surya dan antena untuk sementara waktu agar dapat terhubung dengan jaringan Starlink yang kini terdiri dari sekitar 10.000 satelit di orbit.
Satelit Akan Terbakar Bersama Starship
Meski menjadi satelit Starlink pertama yang diluncurkan menggunakan Starship, seluruh satelit tersebut tidak akan memasuki orbit permanen.
Baca Juga: Tarif Baru Trump Digugat, Dua Pebisnis AS Sebut Kebijakan Langgar Hukum Sebaliknya, satelit akan mengikuti lintasan suborbital Starship sebelum akhirnya kembali memasuki atmosfer Bumi dan terbakar.
Beberapa satelit juga dilengkapi lampu sorot dan kamera yang bertugas merekam kondisi pelindung panas (heat shield) Starship saat menghadapi gesekan ekstrem ketika memasuki atmosfer. Data tersebut akan menjadi bahan evaluasi penting bagi SpaceX untuk meningkatkan ketahanan Starship pada misi-misi berikutnya.
Starship Disiapkan untuk Ribuan Satelit Starlink Baru
SpaceX menargetkan mulai menggunakan Starship secara rutin pada akhir 2026 untuk meluncurkan ribuan satelit Starlink V3. Konstelasi satelit generasi terbaru tersebut dirancang memiliki kapasitas yang jauh lebih besar dibandingkan sistem saat ini, termasuk kemampuan menyediakan layanan koneksi langsung ke perangkat seluler seperti telepon genggam. Saat ini, jaringan Starlink masih mengandalkan antena atau perangkat penerima khusus bermerek Starlink untuk mengakses layanan internet satelit. Dengan Starlink V3, SpaceX berharap layanan internet satelit dapat langsung terhubung ke ponsel tanpa memerlukan perangkat tambahan.