KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perbankan masih agresif menempatkan dana pada Surat Berharga Negara (SBN) di tengah tingginya ketidakpastian global dan masih menariknya imbal hasil instrumen tersebut. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan (Kemenkeu), kepemilikan bank pada SBN per 4 Juni 2026 mencapai Rp 1.216,03 triliun. Angka tersebut meningkat 5,09% secara tahunan (
year on year/YoY) dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp 1.157,09 triliun.
Di sisi lain, data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan kredit perbankan pada April 2026 tetap tumbuh positif. Penyaluran kredit tercatat mencapai Rp 8.755 triliun atau tumbuh 9,98% YoY, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 9,49%.
Baca Juga: Dana Bank Mengalir ke SBN Saat Permintaan Kredit Masih Loyo Chief Economist BTN Myrdal Gunarto menilai, peningkatan penempatan dana bank pada SBN merupakan hal yang wajar di tengah tingginya
yield surat utang negara dan meningkatnya risiko sektor riil. Menurutnya, spread antara
yield SBN dan
cost of fund perbankan saat ini semakin menarik. Sementara di sisi lain, tekanan global seperti pelemahan nilai tukar rupiah, tingginya harga minyak, hingga konflik geopolitik membuat risiko kredit sektor riil ikut meningkat. “Bank akhirnya memberikan alokasi yang lebih besar ke investasi surat utang negara maupun SRBI, terutama untuk tenor pendek, karena mereka ingin mengoptimalkan
return dengan risiko serendah mungkin,” ujar Myrdal kepada kontan.co.id, Senin (8/6/2026). Ia menyebut strategi tersebut banyak dilakukan bank-bank kelompok menengah, termasuk bank buku 1, buku 2, hingga sebagian bank buku 3 yang mulai menambah porsi investasi pada instrumen keuangan yang lebih aman. Meski demikian, Myrdal menilai kondisi tersebut bukan berarti fungsi intermediasi perbankan melemah. Sebab, pertumbuhan kredit industri masih berada di kisaran 10% secara tahunan. Menurutnya, bank saat ini hanya melakukan diversifikasi portofolio untuk menjaga keseimbangan antara
return dan risiko.
Baca Juga: Ini Kata Dapen BCA Soal Alokasi Industri Dana Pensiun di Deposito Naik dan SRBI Turun Ke depan, strategi bank diperkirakan tetap akan menyesuaikan kondisi pasar dan risiko global. Jika tekanan di sektor riil masih tinggi, perbankan akan tetap mencari instrumen investasi yang lebih aman untuk menopang profitabilitas. Namun, Myrdal menilai kredit tetap menjadi instrumen utama perbankan karena masih menawarkan
spread yang menarik. Ketika kondisi sektor riil membaik, bank diperkirakan akan kembali mendorong ekspansi kredit secara lebih agresif. Selain itu, bank juga diperkirakan akan mengoptimalkan bisnis
treasury,
cash management, hingga
trade finance untuk menopang pertumbuhan pendapatan nonkredit di tengah kondisi pasar yang menantang. Dari sisi perbankan, Executive Vice President Corporate Communication and Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan penempatan dana pada surat berharga merupakan bagian dari strategi pengelolaan likuiditas perusahaan sekaligus mendukung perekonomian nasional. Per April 2026, kredit BCA secara bank only tumbuh 4,54% menjadi Rp 965,01 triliun. Sementara penempatan dana BCA pada instrumen surat berharga mencapai Rp 425,41 triliun atau tumbuh 17,55% YoY.
Baca Juga: Dividen Bank Jatim (BJTM) Naik Lagi! Yield 9,5% usai Laba Melonjak 90% Komposisi terbesar ditempatkan pada obligasi pemerintah, selain itu terdapat pula penempatan dana pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan surat berharga lain. “BCA senantiasa menjaga keseimbangan antara kecukupan likuiditas dengan ekspansi kredit yang sehat,” ujar Hera. Sementara itu, Direktur Utama KB Bank Kunardy Darma Lie mengatakan penempatan dana pada SBN masih menjadi strategi penting untuk menjaga stabilitas portofolio di tengah volatilitas global. Menurutnya, SBN menawarkan
yield yang kompetitif dengan profil risiko yang relatif rendah sehingga membantu memperkuat posisi keuangan bank secara defensif. Meski demikian, penempatan dana KB Bank pada SBN per April 2026 tercatat turun 1,19% YoY menjadi Rp 20,07 triliun. Di sisi lain, penyaluran kredit KB Bank tetap tumbuh 3,87% menjadi Rp 43,45 triliun. Kunardy menegaskan peningkatan portofolio SBN tidak serta-merta mencerminkan pelemahan kredit, melainkan bagian dari strategi penyeimbangan portofolio agar ekspansi kredit tetap sehat dan berkelanjutan.
Baca Juga: Nasabah Bank Digital Terus Bertambah, Namun Rasio Pengguna Aktif Masih di Bawah 50% “Profitabilitas tetap terjaga sambil menunggu momentum pertumbuhan kredit yang lebih kuat,” ujarnya. Ke depan, KB Bank akan tetap mengelola portofolio secara dinamis dengan mempertimbangkan faktor makroekonomi, arah kebijakan suku bunga The Fed, volatilitas harga komoditas, hingga tensi geopolitik global. Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan juga menyebut penempatan dana perseroan di SBN masih stabil seiring kondisi likuiditas yang ample dan permintaan kredit yang belum sepenuhnya pulih. Menurut Lani, dana pihak ketiga (DPK) CIMB Niaga masih terus tumbuh terutama dari CASA sehingga rasio CASA perseroan tetap berada di atas 70%.
“SBN menjadi mekanisme efektivitas dan efisiensi likuiditas,” katanya.
Baca Juga: Kredit Bank Mandiri (BMRI) Naik 17,4% Tembus Rp 1.530 Triliun di Kuartal I-2026 Per April 2026, penempatan dana CIMB Niaga pada SBN tercatat Rp 74,44 triliun atau turun 1,57% YoY. Sementara penyaluran kredit tumbuh 6,99% YoY menjadi Rp 171,39 triliun. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News