Spread Yield Obligasi Diproyeksi Makin Lebar, Ini Skenario Hingga Akhir 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Selisih imbal hasil (spread yield) antara obligasi pemerintah tenor 1 tahun dan 10 tahun diproyeksikan kembali melebar (steepening) hingga akhir 2026.

Namun, arah pergerakan kurva imbal hasil masih akan sangat dipengaruhi perkembangan kondisi global, terutama eskalasi konflik di Timur Tengah dan likuiditas pasar keuangan.

Berdasarkan data Bloomberg, kurva imbal hasil obligasi pemerintah sempat mengalami inversi pada 9 Juli 2026.


Baca Juga: Yield Curve Obligasi Mulai Normal, Tapi Investor Masih Waspadai Risiko Jangka Panjang

Saat itu, yield obligasi tenor 1 tahun melonjak menjadi 7,39%, lebih tinggi dibandingkan yield tenor 10 tahun yang berada di level 7,28%.

Kondisi tersebut tergolong tidak lazim karena secara normal obligasi berjangka lebih panjang menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi sebagai kompensasi atas risiko tenor yang lebih besar.

Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia Ramdhan Ario Maruto mengatakan, inversi kurva imbal hasil tersebut dipicu menurunnya likuiditas transaksi di pasar akibat meningkatnya ketidakpastian global.

Menurutnya, tingginya risiko membuat banyak manajer investasi memilih menahan dana dalam instrumen kas maupun surat utang berjangka pendek yang memiliki volatilitas lebih rendah.

"Kondisi ketidakpastian yang tinggi membuat likuiditas transaksi di pasar menurun. Ciri pasar yang baik itu kalau likuiditas dan volume transaksinya tinggi, itu akan membuat kurva bergerak normal," kata Ramdhan kepada Kontan.co.id, Jumat (31/7/2026).

Baca Juga: Penjualan Indofood CBP (ICBP) Tumbuh 11% pada Semester I-2026

Seiring membaiknya kondisi pasar, kurva imbal hasil mulai kembali normal. Per 31 Juli 2026, yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun berada di level 7,34%, sedangkan yield tenor 1 tahun turun menjadi 7,03%.

Ramdhan menilai secara teknikal proses normalisasi masih akan berlanjut sehingga spread antara tenor pendek dan panjang berpotensi semakin melebar.

Meski demikian, proyeksi yield hingga akhir tahun sangat bergantung pada perkembangan geopolitik global dan stabilitas nilai tukar rupiah.

Dalam skenario yang lebih kondusif, apabila ketegangan di Timur Tengah mereda dan sentimen pasar global membaik, yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun diperkirakan turun ke bawah 7,00%. Sementara yield tenor 1 tahun diproyeksikan berada di kisaran 6,50% hingga 6,70%.

Baca Juga: Insentif Bea Masuk LPG Dinilai Jadi Penopang, Chandra Asri (TPIA) Paling Diuntungkan

Sebaliknya, jika konflik geopolitik terus berlanjut dan ketidakpastian meningkat, yield obligasi tenor 10 tahun berpotensi naik hingga sekitar 7,50%. Adapun yield tenor 1 tahun diperkirakan bergerak pada kisaran 7,20% hingga 7,30%.

"Dua kondisi ini sangat bergantung pada perkembangan pasar global. Jika ketidakpastian meningkat, risiko menjadi tinggi dan investor akan terus menahan diri, yang pada akhirnya menekan likuiditas pasar," tutup Ramdhan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News