Spread Yield Obligasi Jangka Pendek & Panjang Menyempit, Investor Perlu Cermati Ini



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Spread yield obligasi jangka pendek dan jangka Panjang terpantau menyempit. Berdasarkan data Bloomberg, yield SBN tenor 1 tahun di level 7,03% dan yield SBN tenor 10 tahun di level 7,34%. 

Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengatakan, tren yield curve tenor jangka pendek cenderung naik. Kurva imbal hasil SBN tenor 1 tahun dan tenor 10 tahun cenderung berbentuk antara inverted dan bear flattening. 

“Dengan kata lain, ada ekspektasi pasar kondisi ekonomi cenderung melemah ke depan,” ujar David kepada Kontan, Jumat (31/7/2026). 


Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi mengatakan yield satu tahun yang sebesar 7,03% dan yield sepuluh tahun sebesar 7,34% menghasilkan spread hanya sekitar 31 basis poin, sehingga kurva imbal hasil menjadi sangat datar. Penyempitan spread berarti pasar meminta imbal hasil hampir sama untuk meminjamkan dana kepada pemerintah selama satu tahun dan sepuluh tahun. Kondisi ini dapat terjadi karena yield pendek naik tajam akibat BI-Rate tinggi, ketatnya likuiditas, tekanan rupiah, dan persaingan dengan SRBI, sedangkan yield panjang tidak naik sebesar tenor pendek karena investor memperkirakan inflasi dan suku bunga akan turun dalam jangka menengah atau karena permintaan institusi tetap kuat pada tenor panjang. 

Baca Juga: Yield Curve Obligasi Mulai Normal, Tapi Investor Masih Waspadai Risiko Jangka Panjang

“Kurva yang datar juga dapat mencerminkan kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi: kebijakan moneter ketat menekan aktivitas dalam jangka dekat, sementara pasar belum menuntut kenaikan premi jangka panjang yang sama besar,” jelas Syafruddin. 

Syafruddin bilang, bagi investor, spread sempit mengurangi kompensasi untuk mengambil risiko durasi sepuluh tahun. Investor memperoleh tambahan yield hanya sekitar 31 basis poin, tetapi harus menanggung volatilitas harga jauh lebih besar, ketidakpastian inflasi, risiko fiskal, dan perubahan suku bunga selama satu dekade. Sebab itu, tenor pendek lebih menarik bagi investor yang mengutamakan perlindungan modal dan fleksibilitas, sedangkan tenor panjang lebih sesuai bagi investor yang yakin yield akan turun dan mengincar capital gain. 

“Investor perlu membandingkan yield tambahan dengan durasi, kebutuhan likuiditas, prospek rupiah, inflasi, arah BI-Rate, serta kemampuan menahan kerugian harga sebelum memilih tenor,” terang Syafruddin.

Baca Juga: Prospek Obligasi Pemerintah dan Saham Dianggap Masih Menarik bagi Investor

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News