SR024 Lebih Laris dari ORI029, Ini Alasan Investor Lebih Antusias



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Penyerapan instrumen Sukuk Ritel SR024 menunjukkan perbaikan dibandingkan seri sebelumnya, meskipun belum sepenuhnya kembali ke level optimal seperti periode 2024–2025.

Hingga menjelang akhir masa penawaran, tercatat SR024 telah terserap sekitar 81,66% dari target Rp 15 triliun. Capaian ini lebih baik dibandingkan ORI029 yang hanya mencapai sekitar 57,76% dari target Rp 25 triliun dan menyisakan kuota cukup besar hingga penutupan.

Jika dibedah, berdasarkan data per Senin (13/4/2026) pukul 18.40 WIB, sisa kuota untuk tenor tiga tahun (SR024-T3) tinggal 9,8% atau sekitar Rp 1,18 triliun. Sementara itu, tenor lima tahun (SR024-T5) masih menyisakan 13% atau sekitar Rp 712,34 miliar.


Baca Juga: Sigma Energy (SICO) Bagi Dividen Rp 1,82 Miliar, Intip Jadwal Lengkapnya

Adapun imbal hasil yang ditawarkan masing-masing sebesar 5,55% untuk SR024-T3 dan 5,9% untuk SR024-T5. Masa penawaran instrumen ini berlangsung sejak 6 Maret hingga 15 April 2026.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai peningkatan penyerapan SR024 tidak hanya dipengaruhi oleh faktor imbal hasil, tetapi juga kombinasi momentum pasar dan struktur permintaan.

Dibandingkan dengan seri sebelumnya, seperti ORI029 yang penjualannya hanya mencapai sekitar Rp 14,44 triliun dari kuota Rp 25 triliun, menurutnya imbal hasil SR024 yang sedikit lebih tinggi, sekitar 10 basis poin di atas ORI029, memang menjadi daya tarik. 

Namun, faktor lain seperti dorongan reinvestasi dari jatuh tempo seri sebelumnya, yakni SR018-T3, serta tambahan likuiditas dari momentum tunjangan hari raya (THR) turut memperkuat permintaan.

“Di saat yang sama, investor juga mulai melihat ini sebagai kesempatan untuk mengunci yield sebelum tren penurunan suku bunga benar-benar terjadi. Jadi ada perpaduan antara faktor teknis dan ekspektasi makro.,” ujar Yusuf kepada Kontan, Senin (13/4/2026).

Baca Juga: Alasan FTSE Russell Pertahankan Indonesia di Secondary Emerging Market

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa minat investor ritel secara absolut belum sepenuhnya pulih ke level tertinggi. 

Pada tahun sebelumnya, sejumlah seri SBN ritel mampu terserap mendekati bahkan melampaui target, sementara SR024 masih berada di bawah capaian tersebut.

Dari sisi preferensi tenor, Yusuf melihat kecenderungan investor memilih tenor pendek, khususnya SR024-T3, sebagai hal yang wajar di tengah ketidakpastian global.

Investor dinilai cenderung menghindari risiko durasi dengan tidak mengunci dana terlalu lama pada instrumen fixed rate, terutama di tengah ekspektasi penurunan suku bunga ke depan.

Baca Juga: Cek Rekomendasi Teknikal Saham TOBA, ADRO, dan KLBF untuk Selasa (14/4)

Tenor yang lebih pendek memberikan fleksibilitas untuk melakukan reinvestasi pada kondisi yang berpotensi lebih menguntungkan.

Selain itu, kebutuhan likuiditas yang masih tinggi juga mendorong investor ritel memilih instrumen dengan horizon lebih singkat. Ditambah lagi, selisih imbal hasil antara tenor tiga tahun dan lima tahun yang hanya sekitar 35 basis poin dinilai belum cukup menarik untuk mengompensasi tambahan risiko durasi.

“Secara risk-reward, tenor pendek memang terasa lebih optimal. Faktor psikologis juga berperan, karena tenor tiga tahun lebih mudah dipahami dan direncanakan dibanding lima tahun,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News