KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah melalui Kementerian Keuangan akan kembali menawarkan Surat Berharga Negara (SBN) Sukuk Ritel pada 21 Agustus hingga 16 September 2026, menambah rangkaian empat seri SBN ritel yang dijadwalkan hingga akhir tahun. Perlu diketahui, SR025 ini merupakan SBN ritel yang dirancang khusus untuk investor yang mengutamakan prinsip syariah serta pendapatan rutin melalui kupon bulanan, mirip dengan seri sebelumnya SR024. Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman, berpandangan daya tarik SR025 akan sangat ditentukan oleh tingkat kupon yang ditawarkan pemerintah, arah imbal hasil (
yield) SBN, suku bunga, inflasi, serta stabilitas rupiah.
Baca Juga: Ekadharma (EKAD) Teken Letter of Intent, 51% Saham Bakal Diambil Investor China Sebelumnya, SBN ritel seri ORI030 menarik minat yang tinggi dari investor. Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat penjualan SBN ritel seri ORI030 terjual Rp 40 triliun hingga akhir penawaran, dari target awal penawaran Rp 20 triliun. “Prospek SR025 cukup kuat, terutama setelah ORI030 mencatat permintaan yang sangat tinggi,” ujar Rizal kepada Kontan, Rabu (12/8/2026). Selain tingkat kupon, SR025 memiliki sejumlah keunggulan yang dapat memperluas basis investornya. Instrumen tersebut menawarkan karakteristik syariah, kupon tetap (
fixed rate), dapat diperdagangkan di pasar sekunder, serta memiliki risiko yang relatif rendah. Meski demikian, Rizal mengingatkan pemerintah perlu memperhatikan tingkat kupon yang ditawarkan.
Pricing SR025 harus tetap menarik bagi investor, tetapi tidak sampai membuat biaya dana (
cost of fund) dan beban bunga Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) semakin tinggi.
Baca Juga: IHSG Menguat 1,69% ke 6.373 pada Rabu (12/8/2026), CUAN, ISAT, BRPT Top Gainers LQ45 Rizal pun melihat peluang SR025 untuk kembali mencatat permintaan tinggi cukup besar. Namun, ia menilai capaian tersebut belum tentu dapat menyamai ORI030 yang penjualannya mencapai sekitar Rp 40 triliun. Menurut dia, terdapat potensi reinvestasi dari dana investor pada SBN yang jatuh tempo. Di sisi lain, minat investor terhadap instrumen
fixed income juga masih cukup kuat. "Kuncinya adalah apakah
return SR025 cukup kompetitif dibandingkan deposito, SBN sekunder, dan instrumen investasi lainnya," jelas Rizal.
Jadi, Rizal menekankan keberhasilan jangan hanya dilihat dari oversubscription, tetapi juga efisiensi biaya pembiayaan pemerintah. Proyeksi Kupon SR025
Terkait tingkat kupon, Rizal memperkirakan kupon SR025 berpotensi lebih kompetitif dibandingkan seri SR024 yang menawarkan kupon di kisaran 5,55%-5,90%. Penerbitan SR024 saat itu berhasil menghimpun dana Rp 17,49 triliun dan hasilnya digunakan untuk pembiayaan APBN 2026. Namun, Rizal menilai kupon SR025 belum tentu harus lebih tinggi dari kupon ORI030 yang berada di kisaran 6,90%-7,00%. Kata Rizal, pemerintah menghadapi
trade-off dalam menentukan tingkat kupon. Kupon yang lebih tinggi memang berpotensi mendorong permintaan investor, tetapi di sisi lain akan meningkatkan biaya utang pemerintah.
“Karena itu,
pricing ideal adalah memberikan premium yang cukup menarik bagi investor dengan tetap menjaga
sustainability beban bunga APBN,” jelasnya. Diketahui, target penerbitan SBN ritel sepanjang 2026 diperkirakan mencapai Rp 150 triliun hingga Rp 170 triliun. Berdasarkan kalender penerbitan pemerintah, masih ada empat instrumen SBN ritel yang dijadwalkan ditawarkan setelah ORI030. Keempatnya adalah Sukuk Ritel (SR) seri SR025, Cash Waqf Linked Sukuk (CWLS) Ritel seri SWR007, Savings Bond Ritel (SBR) seri SBR015, dan Sukuk Tabungan (ST) seri ST017. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News