SRBI Tetap Jadi Pilihan Bank untuk Kelola Likuiditas



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Minat investor terhadap Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) masih tinggi. Pada lelang SRBI 10 Juli 2026, nilai penawaran mencapai Rp 30,46 triliun, namun Bank Indonesia hanya menyerap Rp 15 triliun.

Penawaran terbesar berasal dari SRBI tenor 12 bulan dengan total bid mencapai Rp 24,5 triliun. Adapun tingkat imbal hasil pemenang (weighted average yield) untuk tenor tersebut mencapai sekitar 7,67%.

Tren tersebut sejalan dengan peningkatan kepemilikan SRBI oleh perbankan. Data Bank Indonesia menunjukkan kepemilikan SRBI oleh perbankan terus meningkat. Hingga Mei 2026, bank menguasai SRBI senilai Rp 677,89 triliun, naik dari Rp 673,90 triliun pada April 2026. Secara tahunan, nilainya juga meningkat sekitar 26% dibandingkan pada Mei 2025, yaitu Rp 538,14 triliun.


Baca Juga: Simpanan Mulai Berkurang, Bank Kecil Mulai Atur Strategi Penghimpunan DPK

Direktur Utama PT Bank KB Indonesia Tbk, Kunardy Darma Lie menilai, SRBI masih menjadi salah satu instrumen penempatan likuiditas yang menarik bagi industri perbankan.

"Tingginya minat pada lelang SRBI mencerminkan bahwa likuiditas perbankan secara umum masih memadai, di samping daya tarik instrumen yang menawarkan imbal hasil kompetitif dengan profil risiko yang relatif rendah," ujar Kunardy kepada Kontan, Senin (13/7/2026).

Menurut Kunardy penyerapan dana melalui SRBI memang dapat mempengaruhi likuiditas jangka pendek di pasar uang. Namun, secara umum kondisi likuiditas perbankan masih tetap terjaga, didukung oleh pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) serta tersedianya berbagai instrumen pengelolaan likuiditas.

"SRBI merupakan salah satu instrumen yang digunakan dalam pengelolaan likuiditas dan optimalisasi aset jangka pendek. Setiap keputusan penempatan dana senantiasa mempertimbangkan kondisi likuiditas bank, kebutuhan pendanaan, profil risiko, serta perbandingan imbal hasil dengan alternatif instrumen investasi lainnya," katanya.

Ke depan, KB Bank membuka peluang untuk menambah kepemilikan SRBI secara selektif sesuai perkembangan pasar dan kebutuhan likuiditas. Meski demikian, fokus utama perseroan tetap pada penyaluran kredit berkualitas sebagai fungsi intermediasi dan pendorong pertumbuhan bisnis.

Penempatan dana pada instrumen seperti SRBI maupun Surat Berharga Negara (SBN) akan terus dioptimalkan sebagai bagian dari strategi diversifikasi portofolio dan pengelolaan risiko secara prudent.

Baca Juga: Ini Tantangan yang Dihadapi Fintech Lending dalam Mendorong Kinerja hingga Akhir 2026

"KB Bank akan terus mengoptimalkan komposisi portofolio aset secara dinamis, dengan mempertimbangkan keseimbangan antara ekspansi kredit, penempatan pada instrumen pasar uang, dan investasi surat berharga sesuai kondisi pasar yang berkembang," jelasnya.

Senior Vice President (SVP) Treasury Bank Mandiri Aries Syamsul Arifin mengatakan, penempatan dana pada Surat Berharga Negara (SBN) maupun surat berharga lainnya, termasuk SRBI, merupakan bagian dari strategi pengelolaan likuiditas.

"Bank Mandiri secara konsisten mengelola penempatan dana pada SBN dan surat berharga lainnya sebagai bagian dari strategi pemenuhan rasio-rasio dan manajemen likuiditas serta optimalisasi asset liability management," ujar Aries kepada Kontan, Senin (13/7/2026).

Aries mengatakan strategi tersebut bertujuan menjaga keseimbangan antara likuiditas, imbal hasil, dan profil risiko secara prudent, dengan tetap mempertimbangkan dinamika pasar serta kondisi perekonomian.

Baca Juga: OJK Sebut Gelombang PHK Dapat Pengaruhi Pembiayaan Multifinance dan Fintech Lending

"Strategi pengelolaan portofolio akan tetap dilakukan secara dinamis dengan memperhatikan perkembangan kondisi pasar dan likuiditas. Bank Mandiri tidak semata-mata memprioritaskan salah satu instrumen tertentu," katanya.

Dengan strategi tersebut, Bank Mandiri berharap dapat menjaga pertumbuhan bisnis secara sehat dan berkelanjutan melalui penempatan dana yang optimal, termasuk pada surat berharga.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News