KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Sreeya Sewu Indonesia Tbk (SIPD) menyiapkan strategi pertumbuhan bisnis pada 2026 dengan memperkuat bisnis produk hilir, khususnya untuk
memperbesar porsi business to consumer (B2C).
Langkah ini menjadi bagian dari upaya perseroan untuk memaksimalkan kontribusi seluruh pilar bisnis, mulai dari hulu hingga hilir. Direktur Sreeya Sewu Indonesia,
Irvan Cahyana mengatakan bahwa seluruh lini usaha memiliki peran strategis dalam mendukung target perusahaan pada 2026. Adapun, penguatan bisnis hilir diarahkan untuk meningkatkan porsi penjualan ke segmen B2C.
Selama ini, mayoritas bisnis SIPD masih bertumpu pada segmen business to business (B2B), termasuk pada unit rumah potong ayam. “Nah, khususnya untuk di hilir, itu adalah salah satu strategi kami untuk memperbesar porsi bisnis kami di B2C, karena sebelumnya mayoritas bisnis kami adalah di B2B. Termasuk di rumah potong ayam sendiri, secara tradisional kami cukup besar di bisnis B2B,” ungkap Irvan, dalam Paparan Publik Virtual, pada Kamis (22/1/2026). Sebagai bagian dari strategi pertumbuhan tersebut, SIPD telah meluncurkan berbagai merek milik sendiri, salah satunya produk ayam potong dengan positioning pasar menengah ke atas. “Sehingga strategi yang kami jalankan adalah mengeluarkan merek milik kami sendiri, yaitu Ayam Nanas, dengan kualitas yang kami harapkan bisa memenuhi keinginan konsumen menengah ke atas,” lanjutnya. Dia mengklaim, respon pasar terhadap produk Ayam Nanas di sepanjang 2025 juga cukup menggembirakan
menjadi modal penting untuk ekspansi di tahun berikutnya.
Baca Juga: Sreeya Sewu (SIPD) Optimistis Prospek Industri Perunggasan 2026, Intip Strateginya Selain itu, SIPD juga mengandalkan produk makanan beku sebagai pendorong pertumbuhan di segmen hilir. Perseroan telah mengembangkan sejumlah merek yang mulai memperkuat kehadiran di pasar ritel. Di sisi lain, manajemen SIPD menyadari kondisi pasar saat ini masih
dibayangi oleh sejumlah risiko dan tantangan, terutama yang berasal dari faktor eksternal.
Risiko pertama yang menjadi perhatian utama adalah fluktuasi harga komoditas bahan baku pakan. Saat ini cuaca cenderung basah, yang sebenarnya bagus untuk pertumbuhan jagung. Namun, dalam kondisi perubahan iklim, apabila curah hujan terlalu berlebihan dan menyebabkan banjir atau bencana alam, tentu ini akan berpengaruh terhadap suplai jagung untuk pakan ternak.
Risiko berikutnya berasal dari ketidakpastian global yang dapat mempengaruhi pasokan bungkil kedelai, mengingat sebagian besar bahan baku tersebut masih bergantung pada impor dari negara-negara Amerika Latin, seperti Brasil dan Argentina.
Kemudian, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, yang berdampak langsung pada biaya impor bahan baku maupun belanja modal. “Dan yang terakhir adalah daya beli masyarakat. Harapan kami pemerintah dapat mendorong peningkatan daya beli masyarakat dan pertumbuhan permintaan, sehingga pertumbuhan ekonomi dapat sejalan dengan pertumbuhan industri perunggasan,” pungkasnya.
Baca Juga: Sreeya Sewu Indonesia (SIPD) Bidik Penjualan Rp 5,5 Triliun hingga Akhir 2025 Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News