Sreeya Sewu (SIPD) Optimistis Prospek Industri Perunggasan 2026, Intip Strateginya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA.  PT Sreeya Sewu Indonesia Tbk (SIPD) memandang  prospek industri perunggasan nasional tetap positif pada 2026, dan membidik pertumbuhan kinerja yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.  

Direktur Utama Sreeya Sewu, Eddy Tamboto mengatakan, perusahaan melihat industri perunggasan sebagai sektor yang bersifat populistik dan memiliki daya tahan terhadap siklus ekonomi. Dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di kisaran 5% secara riil, ia cukup percaya diri industri ini masih memiliki ruang untuk bertumbuh.

“Dan juga sejarah kan kalau kita lihat, kalau kita menganalisa pertumbuhan industri ini biasanya dengan adanya pertumbuhan ekonomi yang positif, biasanya industri ini juga bisa berkembang dengan positif. Jadi secara overall memang kami melihat masih optimistis untuk prospek industri ini,” ujar Eddy, dalam Paparan Publik Virtual, pada Kamis (22/1/2026). 


Baca Juga: Sreeya Sewu Indonesia (SIPD) Bidik Penjualan Rp 5,5 Triliun hingga Akhir 2025

Meski demikian, manajemen SIPD melihat volatilitas harga komoditas dan bahan baku pakan akan tetap menjadi faktor risiko yang mesti dicermati di sepanjang 2026. 

Eddy menjelaskan, tekanan biaya operasional masih akan menjadi tantangan utama perusahaan pada tahun ini. Hal tersebut seiring dengan fluktuasi harga ayam hidup dan harga komoditas bahan baku, seperti jagung dan soybean meal atau bungkul kedelai.

Manajemen SIPD pun memproyeksikan harga jagung pada 2026 relatif stabil dan tidak jauh berbeda dibandingkan 2025, seiring kondisi cuaca yang cenderung basah. Namun, ketidakpastian global dinilai masih berpotensi memengaruhi ketersediaan dan harga soybean meal.

Untuk menjaga profitabilitas ke depan, SIPD menekankan penguatan operational excellence sebagai strategi utama.

Selain itu, perseroan juga terus berupaya meningkatkan efisiensi dan efektivitas operasional guna menekan biaya dan meningkatkan daya tahan terhadap fluktuasi pasar.

Baca Juga: Pengusaha Sawit Nilai Aturan DHE 100% Berisiko Tekan Harga CPO dan Daya Saing Ekspor

“Karena kami percaya kalau  punya operational excellence yang tinggi, kita juga bisa lebih menekan operating expense perusahaan, cost of goods perusahaan, di mana itu kami juga terus bisa menjaga supaya perusahaan juga lebih kurang kerentakannya terhadap fluktuasi yang ada di pasar,” jelasnya.

Terkait target kinerja keuangan 2026, manajemen menyatakan tidak dapat menyampaikan target spesifik mengingat status perseroan sebagai perusahaan publik. Namun secara umum, SIPD menargetkan perbaikan dan peningkatan kinerja keuangan di seluruh aspek. 

Di sisi lain, ketidakpastian makro seperti pergerakan nilai tukar rupiah membuat perusahaan bersikap lebih berhati-hati dalam menetapkan target.

Baca Juga: Kemendag Harap Pedagang Daging yang Mogok Kerja Mulai Berdagang Kembali Besok

Perseroan belum merilis secara resmi laporan keuangan tahun buku 2025. Namun, per kuartal III-2025, penjualan bersih SIPD tercatat sebesar Rp 3,93 triliun, atau turun tipis 1,72% dibandingkan Rp 4 triliun pada posisi yang sama tahun lalu. 

Pakan ternak masih menjadi penopang utama dengan kontribusi sebesar Rp 1,96 triliun. Kemudian disusul pembibitan dan peternakan ayam Rp 993,13 miliar, dan ayam potong & makanan beku senilai Rp 980,55 miliar.

Hingga akhir kuartal ketiga lalu, SIPD berhasil meraih laba bersih sebesar Rp 5,08 miliar, dibandingkan posisi pada tahun sebelumnya yang tercatat membukukan kerugian sebesar Rp 13,60 miliar. 

Selanjutnya: Telkomsel Akui Penurunan Kualitas Layanan Data Secara Nasional

Menarik Dibaca: Katalog Promo Hypermart Dua Mingguan sampai 28 Januari 2026, Aneka Telur Diskon 10%

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News