Sri Mulyani Minta Islamic Development Bank Bantu Atasi Perubahan Iklim di Indonesia



KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Sektor penghijauan dan perubahan iklim menjadi agenda prioritas pemerintah. Hal ini disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam sambutannya di acara Launching of the 2022-2025 IsDB Group’s Member Country Partnership Strategy (MCPS) for Indonesia, Selasa (19/7).

Dalam kesempatan tersebut, Sri Mulyani mendorong Islamic Development Bank (IsDB) untuk ikut terlibat dalam upaya penanganan iklim ini. Seperti halnya yang disampaikan Presiden IsDB, Mohammad Al Jasser bahwa IsDB memiliki komitmen terhadap perubahan iklim dan pembiayaan hijau.

“Saya mendorong IsDB untuk bekerja sama tidak hanya dengan kementerian namun juga dengan institusi multilateral lainnya yang juga terlibat dengan kami secara sangat aktif, produktif, serta konstruktif. Ini akan menjadi salah satu area yang berpeluang besar untuk menghasilkan dampak pembangunan yang baik bagi Indonesia,” kata Sri Mulyani.


Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi 2023 Ditetapkan Sekitar 5,3%-5,9%, Ini Upaya yang Dilakukan

Adapun ia mengungkapkan bahwa Indonesia telah mengumumkan National Determined Contribution (NDC) untuk mengurangi emisi karbondioksida (CO2) yaitu sebesar 29% dengan upaya sendiri atau sebesar 41% dengan dukungan internasional.

“Kami telah menerjemahkan NDC ini pada program perubahan iklim di dua bidang yang sangat penting, yaitu energi dan kehutanan,” tutur Sri Mulyani dalam sambutannya di acara  Launching of the 2022-2025 IsDB Group’s Member Country Partnership Strategy (MCPS) for Indonesia, Selasa (19/7).

Di bidang energi, Sri Mulyani menyatakan Indonesia akan mendorong lebih banyak energi terbarukan serta mengontrol penggunaan batubara untuk dapat mengurangi emisi CO2 dari penggunaannya.

Baca Juga: Begini Kinerja Bank Muamalat Pasca Dikendalikan BPKH

Hal ini tercermin dengan mekanisme transisi energi yang telah disampaikan Indonesia pada Pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral (Finance Ministers and Central Bank Governors/FMCBG) ke-3 di Bali lalu.

“Indonesia mengumumkan mekanisme transisi energi yang terdiri dari dua pilar yang sangat penting yaitu mengurangi batubara pada sektor tenaga listrik dan meningkatkan lebih banyak penggunaan energi terbarukan,” jelasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Noverius Laoli