Sri Mulyani prediksi ICP tahun ini sekitar US$ 30-US$ 40 per barel



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gejolak harga minyak global belakangan ini turut membuat harga minyak Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) di luar asumsi pemerintah. Terlebih pasokan minyak mentah global yang membludak berlangsung saat permintaan melemah di tengan pandemi corona virus disease 2019 (Covid-19).

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menilai harga minyak memang sulit untuk diprediksi. Namun, masih ada secerca harapan ada rebound harga minyak kembali pulih. Menkeu memprediksi harga rata-rata ICP di tahun ini diperkirakan bergerak di kisaran US$ 30-US$ 40 per barel. Jauh lebih rendah dari prediksi sebelumnya di level US$ 63 per barel.

“Produksi minyak sudah tidak ada yang menampung, harga minyak paling sulit diprediksi dengan semua situasi. Ke depan masih ada upaya mengurangi supplay, ketika demand ekonomi dunia pulih,” ujar Sri Mulyani dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XI DPR, Kamis (30/4).


Baca Juga: Sri Mulyani perkirakan kekurangan penerimaan pajak mencapai Rp 388 triliun di 2020

Harga ICP sendiri tentunya besar dipengaruhi oleh pergerakkan harga minyak global. Catatan Sri Mulyani, hingga akhir April harga minyak jenis brent dan West Texas Intermediate (WTI) diestimasi berada di kisaran US$ 16-US$ 21 per barel. Sementara harga acuan ICP pada bulan ini di level US$ 20-US$ 30 per barel.

Sepanjang kuartal I-2020 pun harga  minyak WTI di bawah harga akhir tahun lalu yang mencapai US$ 61,08 per barel. Pada bulan ini pun sempat menyentuh angka negatif dan berdampak pada konsisi pasar future minyak global. Sehingga harga masih menunjukan tren penurunan di awal kuartal II-2020.

Bila ditelaah, selama Januari-Maret 2020, ICP masih konsisten di atas Brent dengan selisih di kisaran US$ 1-US$ 2 per barel. Menkeu bilang ini terjadi anomal MOPS di bawah ICP, mirip saat 2008 lalu.

Sri Mulyani bilang, ada enam faktor yang memengaruhi harga minyak. Pertama, demand global yang semakin menurun seiring estimasi pandemi Covid-19. Kedua, kebijakan pemotongan produksi the Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) plus menuju 8 juta barel per hari sampai akhir 2020. Ketiga, percepatan pemotongan produksi oleh Kuwait.

Keempat, penurunan signifikan aktivitas rig/produksi di negera produsen, termasuk Amerika Serikat (AS). Kelima, manajemen oil storage di beberapa negara yang sudah membaik. Keenam, faktor geopolitik di Timur Tengah masih memengaruhi seperti tensi AS-Iran.

Di sisi lain, Menkeu mencatat ada beberapa faktor pendorong rebound harga minyak di antaranya berakhirnya pandemi Covid-19 dan perkiraan perbaikan ekonomi China mulai Semenster II-2020. Kedudian, tingkat harga minyak renda yang kurang dari US$ 30 per barel menjadi disinsentif produksi. Lalu, dampak kebijakan OPEC plus dan potensi faktor geopolitik yang mereda.

“Optimismenya di kuartal II-2020 ada perbaikan dan langkah konkret mengurangi produksi minyak global,” ujar Menkeu.

Baca Juga: Menkeu: Tetap waspada, masa terburuk kepanikan pasar keuangan sudah berlalu

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Khomarul Hidayat