SRIL rogoh US$ 100 juta bangun pembangkit listrik



JAKARTA. PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) berusaha efisiensi. Emiten yang akrab dengan nama Sritex ini akan membangun pembangkit listrik atau powerplant bertenaga gas dan batubara dengan kapasitas 60-70 MW, di Sukoharjo, Jawa Tengah. Untuk itu, SRIL perlu merogoh investasi sekitar US$ 100 juta atau Rp 1,35 triliun.

Dengan pembangkit listrik tersebut, SRIL merasa bisa menekan biaya listrik hingga 30%. Adapun, biaya listrik dan air perseroan berporsi 6,5% terhadap beban pokok penjualan perseroan.

"Pembangunan powerplant mulai semester kedua tahun depan. Konstruksinya sekitar 1,5 tahun. Sekarang kita jajaki dulu keuangannya," kata Direktur Utama SRIL Iwan Setiawan, Senin, (10/8).


Sebagai sumber dana pembangkit listrik tersebut, SRIL akan menerbitkan surat utang atau obligasi sebesar US$ 420 juta. Dengan nilai tukar rupiah terhadap dollar di kisaran Rp 13.500, nilai obligasinya setara Rp 5,67 triliun. Obligasi ini memiliki kupon maksimal 10% dengan tenor 5 tahun.

Iwan bilang, SRIL masih dalam tahap beauty contest mencari penjamin emisi obligasinya. Ia menargetkan, pemilihannya selesai di akhir Agustus atau pertengahan September.

Lebih lanjut, SRIL akan memanfaatkan US$ 320 juta dana obligasi untuk melakukan pembiayaan kembali atau refinancing. Belum jelas utang mana yang akan SRIL lunasi. Pada tahun lalu, SRIL tiga kali menerbitkan surat utang dengan nilai US$ 200 juta, US$ 70 juta, dan US$ 30 juta.

Kondisi pasar modal sedang lesu tak membuat SRIL ragu dengan obligasi sebagai sumber pendanaan. "Kita harus ekspansi. Waktunya bagus dan jangan sampai ketinggalan," ujar Iwan.

Saat ini, SRIL tengah dalam tahap pembangunan kain jadi dengan kapasitas 8 juta yard per bulan. Iwan menargetkan pabrik tersebut rampung di tahun 2016. Sehingga pendapatan SRIL diperkirakan tumbuh 8-10% tahun depan. Tahun ini, SRIL menargetkan pendapatannya naik 7-10%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie